Peradah DKI Jakarta Ingin Generasi Muda Terlibat Dalam Pelestarian Budaya Situs Candi

Dewan Pimpinan Provinsi Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (DPP Peradah Indonesia) DKI Jakarta kembali menggelar sharing session secara live streaming via instagram bertemakan Eksistensi Candi dan Upaya Pelestarian Budaya Nusantara (12/06).

Diskusi virtual yang dipandu oleh I Gusti Krishna Aditama selaku moderator turut menghadirkan perwakilan dari Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Gemabudhi), Anes Dwi Prasetya membahas terkait viralnya kenaikan harga tiket candi Borobudur serta bagaimana persepsi pemuda Buddha dan Hindu menanggapi hal tersebut.

Menurut Anes selaku Ketua DPP Gemabudhi, organisasi kepemudaan dan mahasiswa Buddha seperti PP Hikmahbudhi, DPP Gemabudhi, DPP Patria dan DPP Dharmapala Nusantara sudah menyampaikan tanggapan terkait polemik kenaikan harga tiket Candi Borobudur dengan alasan konservasi. Salah satunya, menuntut agar pemerintah memberikan kejelasan atas SKB empat Menteri dan 2 Kepala Daerah (Jawa Tengah dan DIY), tentang pengembalian situs Candi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Buddha Indonesia dan dunia.

Menanggapi hal tersebut, segenap organisasi kepemudaan Buddha itu mendesak supaya pemerintah dapat mengkaji serta menghentikan segala bentuk komodofikasi, indutrialisasi budaya dan komersialisasi Candi Borobudur yang dapat mengancam kelestarian, kesakralan candi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Buddha termasuk agar tidak ada peraturan/kebijakan yang menyulitkan umat Buddha beribadah di Candi Borobudur.

“Kami tidak ingin isu terkait candi Borobudur ini dipolitisasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Saran saya, kembali lagi SKB 4 Menteri dan 2 Kepala Daerah diperjelas dan terkait pelestarian candi agar pemuda Buddha bisa dilibatkan dalam segala perumusan kebijakan/peraturan seperti menutup situs candi yang dianggap sakral, terkecuali untuk alasan tamu khusus/negara yang diizinkan pemerintah, dengan alasan konservasi, edukasi, serta ritual ibadah umat Buddha”, ungkap Anes.

Selanjutnya, Bryan Pasek Mahararta, Ketua DPP Peradah Indonesia DKI Jakarta turut berkomentat terkait upaya pelestarian budaya Nusantara. Menurutnya, dalam sensus pemuda Hindu DKI Jakarta yang belum lama ini dilakukan menunjukkan hasil adanya ketertarikan minat generasi muda Hindu terhadap isu sosial budaya. Hal ini tentu berkaitan dengan eksistensi generasi muda Hindu saat ini yang punya kewajiban untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.

“Yang banyak masyarakat tahu soal Candi Borobudur dan Prambanan itu hanyalah sebagai tempat wisata dan merupakan warisan budaya, baik untuk domestik maupun mancanegara. Namun yang sangat disayangkan bahwa dalam prakteknya kedua agama tersebut punya ritualistik yang tidak bisa dipisahkan antara perayaan keagamaan denga menggunakan Candi sebagai sarana tempat peribadatan. Misalnya, masyarakat hanya tahu hari raya Hindu adalah Nyepi. Padahal ada hari pemujaan lain seperti hari suci Saraswati, Siwaratri, Purnama, Tilem dan sebagainya yang juga butuh kekhusyukan dalam melaksanakan ritual agama”, sahutnya.

Pria yang akrab disapa bung Ibenk ini menjelaskan bahwa sebaiknya pemerintah jangan sekedar mencari profit semata lalu kesampingkan ritual budaya keagamaan. Selain itu, sebagai pemuda Hindu ini menjadi sangat penting untuk bisa terlobat memelihara warisan budaya leluhur seperti pelestarian situs candi bagi generasi muda.

“Oleh karenanya, kami juga punya niat akan berkolaborasi untuk mengadakan kegiatan semacam Jambore Kebudayaan bersama organisasi pemuda lintas iman sebagai forum silaturahim sesama anak bangsa agar bisa merawat dan melestarikan ajaran agama dengan semangat toleransi dan moderasi beragama dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah ibadah lainnya termasuk situs-situs Candi yang ada di Indonesia”, ujar Ibenk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.