REFLEKSI NYEPI MEMOHON KERAHAYUAN JAGAD DI TENGAH PANDEMI COVID 19

Om Awignam astu namosidham,

Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu di Indonesia yang diwariskan sejak jaman Kerajaan-kerajaan Hindu dijawa, di bali hingga saat ini dilestarikan oleh umat Hindu diseluruh nusantara. Hari raya Nyepi merupakan hari pergantian tahun baru penanggalan Hindu Nusantara (Tahun Saka) yaitu ditandai dengan berakhirnya sasih kesanga dan menginjak pada penanggal 1 sasih kedasa.

Dasar dari pelaksanaan hari raya Nyepi adalah konsep untuk menjaga keharmonisan dan keselarasan alam jagad ini yaitu melalui konsep ajaran leluhur :Tri Hita Karana. Tri artinya tiga, Hita artinya kebahagiaan serta Karana artinya penyebab jadi ada 3 (tiga) penyebab untuk manusia dapat mencapai kebahagiaan yang hakiki baik itu kebahagiaan pada saat di dunia saat ini maupun kebahagiaan di alam yang akan datang kelak.

Ajaran Tri hita karana ini lah yang menjadi dasar pelaksanakan Hari Raya Nyepi umat Hindu di Nusantara sebagai jalan untuk memohon kerahayuan jagad raya dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Yang pertama adalah kita wajib melaksanakan hubungan cinta kasih dan bhakti kepada alam (Palemahan) yang diwujudkan dengan pelaksanaan melasti dan tawur Kesanga.

Upacara melasti oleh umat hindu dilaksanakan di laut (segara) atau pada sumber air yang mengalir dengan tujuan untuk membuang segala kekotoran-kekotaran (mala) atau dosa-dosa pada manusia maupun kekotoran yang ada pada bumi ini untuk dapat dilarung atau dihanyutkan di tengah samudra serta juga memohon tirta penyucian (kamandalu) untuk mensucikan kembali jagad ini agar dapat netral kembali, termasuk untuk menetralisir wabah pandemi covid 19 yang saat ini sedang terjadi didunia.

Setelah melaksanakan melasti umat hindu melaksanakan bhakti kepada alam berikutnya yaitu tawur kesanga yaitu satu hari sebelum pergantian sasih kesanga ke sasih kedasa, tawur kesanga adalah dengan melaksanakan upacara pecaruan di perempatan desa (catur pataning desa) dengan makna memberi hidangan kepada bhuta kala, dan setelah diberikan hidangan akan dikembalikan pada tempat asal dan arahnya masing-masing  sehingga bhuta kala tidak mengganggu umat manusia pada saat melaksanakan brata penyepian.

Setelah umat hindu selesai menuntaskan bhakti kepada alam yaitu alam telah tersucikan maka bersiaplah kita untuk melaksanakan ajaran tri hita karana yang kedua yaitu melaksanakan hubungan cinta kasih atau bhakti kepada tuhan (Parahyangan) yaitu menyatukan diri dengan dengan Sang Hyang Widhi dengan tapa brata yoga semedi dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian (Amati Geni, amati karya, amati lelungan, amati lelaguan). catur brata penyepian ini dilaksanakan di kamar suci/ sanggar pamujan  dirumah atau dipura. kita tidak melaksanakan aktivitas bepergian atau keluar. Mudah-mudahan pelaksanaan nyepi saat itu ini juga akan dapat memutus mata rantai penularan Covid 19.

Setelah kita selesai melaksanakan Catur Brata Penyepian selama 24 Jam maka selanjutkan kita dapat kembali menyalakan damar atau api kehidupan yang baru dengan suka cita penuh kedamaian, ketentraman  dan kebahagiaan dengan melaksanakan bhakti kepada Sang Hyang widhi melalui upacara Ngembak geni.

Dan puncak acara dari pelaksanakan hari raya nyepi ini adalah melaksanakan ajaran tri hita karana yang ketiga yaitu hubungan cinta kasih kepada sesama manusia (Pawongan), yaitu dengan melaksanakan acara dharma shanti yaitu saling bersimakrama saling asah asih asuh kepada sesama kerabat, saudara dan sahabat atau teman. Di era pandemi ini covid 19 ini dharma shanti dapat kita laksanakan secara virtual dengan memanfaatkan berbagai media sosial media seperti facebook, instagram, whatsapp dan zoom.

Jika kita telah melaksanakan seluruh rangkaian nyepi tersebut sempurnalah kegiatan nyepi tersebut. Maka melalui momentum hari raya Nyepi tahun baru saka 1943 ini marilah kita bersama-sama memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi semoga pandemi Covid 19 ini dapat segera berakhir dan jagad ini dapat kembali berjalan normal seperti sediakala.

Om Ung Asta Maha Baya

Sarwa dewa sarwa sanjata sarwa warna  ya namah

Om atma atma raksaya sarwa satru winasa ya namah swaha

“Ya Tuhanku, yang menguasai ketiga alam semoga kami terhindar dari malapetaka yang berasal dari delapan penjuru mata angin, kami berlindung hanya kepada-Mu para dewata. Semoga semua mahluk terhindar dari marabahaya dan malapetaka, semoga segala penyakit dan segala penderitaan hilang dimusnahkan ya Tuhan, aku berlindung hanya kepada-Mu”

Om Santih Santih Santih Om

 

Oleh :

Priyo Anggoro

Wakil Ketua Hubungan Masyarakat

DPP PERADAH LAMPUNG 2021-2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.