|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
''NYEPI DAY'' MENDUNIA 4 Desember 2007
PERJUANGAN untuk menunjukkan tradisi umat Hindu ramah lingkungan kepada dunia internasional akhirnya membuahkan hasil. Panitia Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC) yang melibatkan 10.000 delegasi dari berbagai negara ini terkesima menyaksikan film dokumenter tentang perayaan Nyepi di Bali. Film dengan durasi sangat pendek ini mulai ditayangkan sekitar pukul 10.50 wita dan mendapat apresiasi yang positif dari para anggota delegasi.
Film yang diputar setelah sambutan Gubernur Bali Dewa Beratha ini menggambarkan suasana Nyepi di Jalan Gajah Mada serta jalan-jalan protokol di pusat Kota Denpasar. Deburan ombak yang menderu menjadi instrumen khusus pada tayangan film pendek ini. Film ini juga mendapat apresiasi dari Presiden Conference of Parties (COP) ke-13 Rahmat Witoelar. ''Bumi sudah memanggil manusia untuk berbuat. Manusia harus mengetuk hatinya untuk berbagi dengan bumi,'' ujarnya.
Merespons lolosnya perjuangan delegasi Bali untuk menunjukkan kepada dunia tentang Nyepi Day (perayaan Nyepi) ini, kolaborasi LSM Bali mengaku akan terus melakukan sosialisasi. Kolaborasi LSM Bali yang terdiri atas Bali Organic Asociation (BOA), Walhi, PPLH, serta Wisnu ini akan terus meyakinkan dunia internasional tentang perlunya melakukan hening terhadap bumi.
Perjuangan lain, untuk menunjukkan daya tawar Bali di mata internasional dalam penyelamatan bumi juga akan disampaikan dengan berbagai kegiatan. ''Kami juga telah berjuang agar pidato Presiden mengangkat atau setidaknya menyinggung tentang hakikat Nyepi,'' ujar Dr. Ir. Luh Ketut Kartini, M.S.
Mantan Menteri Lingkungan Hidup Prof. Emil Salim juga banyak bicara tentang pentingnya manusia melakukan aksi ramah terhadap bumi. Menurutnya, dalam menentukan rencana aksi untuk meratifikasi Protokol Kyoto, dunia internasional bisa mengadopsi beragam pendekatan tradisional termasuk Nyepi.
''Kerusakan bumi sudah sangat parah. Ke depan, manusia harus merasa terpanggil untuk menyelamatkan tempat hidupnya,'' ujarnya.
Emil Salim mengatakan ke depan kajian-kajian tentang lingkungan harus direspons lebih arif. ''Biarkan ahli-ahli lingkungan melakukan pemetaan dan berbicara tentang strategi penyelamatannya. Politisi jangan terlalu mempolitisasi isu lingkungan,'' ujarnya. (tim BP)
Sumber : Balipost
Karnadi
|