Username
Password
Belum terdaftar,
klik untuk register
Lupa password klik disini
» Pura Agung Giri Natha (s
» Pura Bhuana Shanty
» Pura Kerthi Bhuana
» Pura Penataran Agung Sri
» Pura Eka Wira Anantha
» Pura Prajapati
» Pura Cikuray
» Pura Lido
» Pura Raditya Dharma
» Pura Giri Kusuma
» Pura Kertha Jaya
» Pura Dharma Siddhi
» Pura Tri Bhuana Agung
» Pura Agung Wira Satya Bu
» Pura Agung Widya Mandala
» Pura Dharma Kanti
» Pura Ksatria Dharma
» Pura Kesatrya Loka
» Pura Mertha Sari
» Pura Widya Dharma
» Pura Prajapati Purna Pra
» Pura Candra Prabha
» Pura Segara Cilincing
» Pura Agung Taman Sari
» Dewi Mandir, Jakarta
» Pura Wira Satya Akasa
» Pura Rambut Siwi
» Pura Penataran Agung Ker
» Pura Amerta Jati
» Pura Dalem Purnajati Tan
» Pura Mustika Dharma
» Pura Aditya Jaya
» Pura Agung Tirtha Bhuana
» Pura Parahyangan Agung J



Apakah Anda Bangga Beragama Hindu?
Bangga Sekali
Bangga
Biasa
Kurang Bangga
Malu
    

PANDANGAN AGAMA HINDU TERHADAP PENYAKIT KUSTA DAN FRAMBUSIA (BAGIAN 1)
4 Januari 2009
Oleh:
I Wayan Sudarma (Shri danu D.P)
Drs. IGAK. Suthayasa, M.Si
dr. I Ketut Lila Murti, S.Ag, Sp.A

Menurut ajaran agama Hindu, tujuan utama manusia hidup, ialah moksartham jagadhita ya ca iti dharma, yaitu meraih kebahagiaan tertinggi sthula sarira (lahir) dan suksma sarira (batin) dalam tatanan jagat yang aman dan damai (jagadhita) berdasarkan dharma atau kebenaran. Dan untuk mencapai tujuan ini manusia harus  berada dalam keadan sehat (svasthya), tidak sakit (aroga). Dalam keadaan sakit (vyadhyupasrsta), manusia tidak akan mungkin dapat mewujudkan tujuan hidupnya. Bagaimana manusia dapat menekuni pelajaran agama agar memperoleh kebajikan (dharma), kalau kepala sedang pusing, gigi sakit, atau tubuh dihinggapi suatu penyakit yang menular, seperti kusta misalnya. Mana mungkin dapat bekerja dengan tekun, aman, dan nyaman untuk mendapatkan penghasilan yang baik, mengumpulkan harta (artha) kalau sedang menderita sakit. Apakah dapat menikmati (kama) tontonan yang menarik, pemandangan yang indah, makanan yang enak, berbaju bagus, kalau tubuh sedang berpenyakitan. Begitu pula kebahagiaan  dan kepuasan tertinggi (moksa) tidak akan tercapai bila pikiran sedang kacau. Itulah sebabnya untuk dapat mencapai tujuan hidupnya, manusia hendaknya senantiasa berada dalam keadaan sehat (svasthya / svastha), dan tidak sakit (aroga / arogya).

Penyakit Kusta

Dalam agama Hindu penyakit kusta lebih tergolong Adibhautika klesa, yaitu penyakit yang disebabkan oleh mahluk lain (sarva bhuta atau yaksa). Penyakit Kusta bukan bukan merupakan penyakit Adiatmika klesa, yaitu penyakit yang dari semula karena terganggunya kerja atau fungsi organ atau sistem dalam tubuh misalnya kencing manis, bukan juga Adidaevika klesa, yaitu penyakit karena kekuatan gaib atau kutukan. Seperti yang tercantum dalam kitab Atharvaveda II.33.1-7  pada sukta Yaksmavibarhana, dimana dijelaskan bahwa kuman yang menyebabkan penyakit kusta ini disebut Yaksma (kuman penyebab kusta atau kilasa), berada dalam kotoran  yang tersebar dari seluruh bagian tubuh, seperti kotoran yang keluar dari mata, lobang hidung, telinga, air liur, kuman yang terdapat pada jantung, paru-paru, limpa, hati, usus, dubur, puser. Dan tersebar pula di daerah paha, lutut, tumit, kaki, pinggul, tangan, jari-jari, rambut dan daki  pada kuku.

"Aksibhyam te nasikhabyam karnabhyam chubukadadhi, yaksmam sirsanyam mastiskajjihvaya vi vrhami"

Artinya: Kotoran yang keluar dari (kedua) matamu, (kedua) lobang hidung, (kedua) telinga, dagu, otak, lidah, adalah media dari yaksma (kuman dari kusta) itu
(Atharvaveda II. 33.1)

"Grivabhyasta usnihabhyah kikasabhyo anukyat, yaksmam dosanya mamsabhyam bahubhyam vi vrhami te"

Artinya: Pada yang keluar dari lehernya, tengkuk, tulang belakang, tulang punggung, bahu, lengan bawah, aku keluar sebagai Yaksma
(Atharvaveda II. 33.2)

"Hrdayat te pari klomno haliksnat parsvabhyam, yaksmam matasnabhyam plihno yaknaste vi vrhamasi"

Artinya:Pada yang keluar dari jantungmu, paru-paru, pinggang, limpa, hati, aku keluar sebagai Yaksma
(Atharvaveda II. 33.3).

"Antrebhyaste gudabhyo vanisthorudaradadhi yaksmam kuksibhyam plasernabhya vi vrhami"

Artinya: Pada kotoran berasal dari perutmu, yang berada di usus, dubur, perut, plasi, puser, berada dan keluar dalam wujud Yaksma.
(Atharvaveda II. 33.4).

"Urubhyam te asthivadbhyam parsnibhyam prapadabhyam, yaksmam bhasadyam sronibhyam bhasadam bhamsaso vi vrhami"

Artinya: Pada kedua pahamu, lutut, tumit, kaki, pinggul, dasar (? Bhansas), aku berada dan keluar sebagai Yaksma
(Atharvaveda II. 33.5).

"Asthibhyaste majjabhyah snavabhyo dhamanibhyah, yaksmam panibhyamanggulbhyo nakhebhyo vi vrhami te"

Artinya: Pada tulang, tulang sumsum, otot pembuluh, dua tangan, jari, kukumu, aku berada da keluar sebagai Yaksma
(Atharvaveda II. 33.6).

"Angge angge lomnilomni yaste parvaniparvani, yaksmam tvacasyam te vayam kasyapasya vibarhena visvancam vi vrhamasi"

Artinya: Apakah Yaksma berada di setiap anggota tubuhmu, di setiap rambut, tulang, persendian, yaksma (kuman) dari kulitmu, dengan mengeluarkan kasyapa (vibarha / luka) mengeluarkan (visvanc / nanah).

Dalam Agama Hindu dikenal ada beberapa istilah penyebutan untuk penyakit Kusta, yaitu; Kusta dan Kilasa (Kilas; bahasa Bali) yang keduanya menunjuk kepada penyakit yang berupa bintik bintik pucat putih sampai bernanah yang menjangkiti permukaan tubuh terutama bagian kulit. Hal ini ditegaskan dalam kitab Atharvaveda I.23.2,3,5,  pada sukta Nasana, bagian Sveta Kustha, yaitu:

"Naktamjatasyosadhe rame krsne asikni ca, idam rajani rajaya kilasam palitam ca yat"

Artinya: Tempat kotor telah melahirkanmu, Wahai Engkau, penguasa tempat tersembunyi dan yang menguasai kelembaban; wahai yang memberikan warna, apakah Engkau yang menjadikan warna bintik-bintik penyakit kilasa (kusta) ini dan yang pucat itu.
(Atharvaveda I.23.2)

"Kilasam ca palitam ca nirito nasaya prsat, a tva svo visatam varnah para suklani pataya"

Artinya: Bintik-bintik berwarna pucat itu (kilasa/kusta), apakah Engkau  yang menyebabkan bintik-bintik itu hilang, biarlah warna itu menyertaimu; hilangkan penyakit-penyakit itu.
(Atharvaveda I. 23.3)

"Asthijasya kilasasya tanujasya ca yat tvaci, dusya krtasya brahmana laksma svetamaninasam"

Artinya: Dari timbulnya bintik-bintik kusta itu, dan dari lahirnya tubuh yang ada di dalam kulit, darinya telah ditimbulkan perusak itu-dan oleh mantra yang telah Aku buat sehingga menyebabkan tanda putih itu menghilang
(Atharvaveda I.23.5)

Dari mantra Veda di atas dapat kita ketahui bahwa penyakit Kusta atau Kilasa awal munculnya di daerah tubuh yang gelap atau lembab dan kotor, misalnya daerah ketiak, pangkal paha, di sela-sela jari tangan maupun kaki, dimana daerah itu biasanya kurang mendapat perhatian terutama dalam hal kebersihannya.

Dampak dari penyakit ini pada tingkat lanjut adalah kecacatan fisik, misalnya jari-jari bunting, kaki benkok, dan lain-lain yang semuanya mengakibatkan penurunan kualitas Sumber Daya Manusia. Dalam Slokantara 18-19 disebutkan bahwa tujuh belas keadaan fisik yang digolongkan sebagai ciri-ciri kelahiran neraka (Neraka Cyuta), termasuk didalamnya bila menderita penyakit kusta yang disebut Sakit Gde (Maha Pataka).

Penularan penyakit ini adalah karena kontak khusus. Kusta penularannya dimungkinkan karena kontak langsung yang intim secara terus-menerus.

Berkembangnya penyakit ini karena hygiene perorangan dan sanitasi lingkungan yang buruk. Keterbelakangan sosial menyebabkan tidak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa penyakit Kusta adalah penyakit kutukan Tuhan yang tidak mungkin disembuhkan. Barangkali karena itu penderita penyakit Kusta enggan mencari pertolongan pengobatan disamping karena faktor kemiskinan. Barangkali berdasarkan alasan ini Departemen Kesehatan memandang perlu menggandeng tokoh agama sebagai mitra kerja untuk bersama-sama memperbaiki pandangan keliru tadi sehingga dengan demikian penyakit Kusta bisa dieliminir dan  bahkan bisa diberantas.

Penyakit Frambusia

Dalam agama Hindu penyakit frambusia lebih  tergolong Adibhautika klesa sama seperti penyakit Kusta, yaitu penyakit yang disebabkan oleh mahluk lain (sarva bhuta atau yaksa). Bukan Adiatmika klesa, yaitu penyakit yang dari semula karena terganggunya kerja atau fungsi organ atau sistem dalam tubuh, bukan juga Adidaevika klesa, yaitu penyakit karena kekuatan gaib atau kutukan. Penyakit Frambusia pada umumnya menyerang anak-anak (usia 0-15 tahun).

Dalam Veda penyakit ini sering disebut dengan penyakit Apacit (nanah atau luka borok) dan di Bali penyakit ini sering disebut penyakit Kores, yang dapat mengakibatkan kerusakan pada tubuh (dosavasad apak ciyamanah) dan bahkan dapat mengakibatkan cacad fisik dan pembengkakan kelenjar leher. Pada umumnya penyakit frambusia berkembang pada kulit (charma) terutama pada lapisan Avabhasini dhara, yakni lapisan pertama yang tebalnya 1/18 brihi (1 brihi = setebal sebutir beras), mengandung lasika (limpha) dan vari (air). Di kulit lapisan ini sering tumbum penyakit Padma kantaka (panu), Sidhma  (kudis), dan Apacit (patek, kores).

Dalam kitab Atharvaveda, ada beberapa mantra yang mengungkap tentang penyakit Frmabusia ini diantaranya, yaitu:

"Apacitah pra patata suparno vasateriva, suryah krnotu bhesajam candrama vo'pocchatu"

Artinya: Wahai para apacit, yang beterbangan kesana-kemari seperti seekor burung dari sarangnya, semoga yang terkena penyakit ini Matahari memberi kesembuhan padamu; semoga bulan menyinarimu di sana dan  menjadi sembuh.
(Atharvaveda VI.83.1)

" Asutika ramayanyapacit pra patisyati, glauritah pra patisyati sa galunto nasiiyati"

Artinya: Gersanglah apacit, puteri dari yang hitam, terbaglah menjauh; si buruk akan terbang menjauh dari sini (tubuh); ini harus hilang dari leher.
(Atharvaveda VI.83.3)

Adapun ciri-ciri penyakit Frambusia ini menurut Veda adalah sebagai berikut:

"Enyeka syenyeka krsnaika rohini dve, sarvasamagrabham namaviradhnirapetana"

Artinya: satu (adalah) berbintik-bintik, satu keputih-putihan, satu hitam, dua merah; dari semua yang kusebut namanya; pergilah menjauh jangan serang orang-orang kami.
(Atharvaveda VI.83.2)

Cara pintu masuk penyakit ini adalah adanya kontak kulit secara langsung antara penderita dengan orang sehat yang ada lukanya. Demikian pula pola berkembangnya penyakit ini karena hygiene perorangan dan sanitasi lingkungan yang buruk. Karena penyakit ini lebih banyak menyerang anak-anak maka peran orang tua  dalam menjaga kebersihan dan kesehatan putra-putrinya adalah strategi yang ampuh untuk mencegah berkembangnya penyakit ini.

bersambung
I Made Sugi Ardana
Home Kegiatan Artikel Pemerintah Buku Tamu Download Forum Links