Username
Password
Belum terdaftar,
klik untuk register
Lupa password klik disini
» Pura Agung Giri Natha (s
» Pura Bhuana Shanty
» Pura Kerthi Bhuana
» Pura Penataran Agung Sri
» Pura Eka Wira Anantha
» Pura Prajapati
» Pura Cikuray
» Pura Lido
» Pura Raditya Dharma
» Pura Giri Kusuma
» Pura Kertha Jaya
» Pura Dharma Siddhi
» Pura Tri Bhuana Agung
» Pura Agung Wira Satya Bu
» Pura Agung Widya Mandala
» Pura Dharma Kanti
» Pura Ksatria Dharma
» Pura Kesatrya Loka
» Pura Mertha Sari
» Pura Widya Dharma
» Pura Prajapati Purna Pra
» Pura Candra Prabha
» Pura Segara Cilincing
» Pura Agung Taman Sari
» Dewi Mandir, Jakarta
» Pura Wira Satya Akasa
» Pura Rambut Siwi
» Pura Penataran Agung Ker
» Pura Amerta Jati
» Pura Dalem Purnajati Tan
» Pura Mustika Dharma
» Pura Aditya Jaya
» Pura Agung Tirtha Bhuana
» Pura Parahyangan Agung J



Apa tujuan anda ke Pura
Sembahyang
Bertemu teman
Mencari jodoh
    

MAKNA AIR BAGI KELANGSUNGAN HIDUP
4 Januari 2009
 Oleh: Shri Danu D.P

A.     Hakekat Air
Pada hakekatnya dunia ini tidak akan pernah tercipta, bila air  tidak diciptakan pada awal mulanya. Air sebagai benih pertama penciptaan alam semsta raya. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam Veda Smrthi BAB. I Sloka 8 dan 10   sebagai berikut :

So Bhidhya ya sarirat  
Swatsisrksur wiwidhah prajah

Artinya :

Ia yang menciptakan berbagai ciptaan, menjadikan  dari diri-Nya sendiri, diciptakannya mahluk-mahluk hidup yang beraneka raga, mulai dengan memikirkannya, diciptakannya air, dan meletakkan benih itu (air) kedalamnya.

Apo nara iti prokta apo  
Wainara sunawah,  
Ta yadasyayanam purwam tena  
Narayanah smrtah

Artinya :

Air nara namanya, karena sesungguhnya air itu dari Nara dan sebagai tempat (ayana) dari yang pertama, karena itu Ia diberi gelar Narayana.

Dari kedua sloka tersebut diatas, sangat jelaslah bagi kita bahwa merupakan sumber air kehidupan dijagat raya ini. Karena air sebagai sumber timbulnya makanan bagi semua mahluk hidup baik di alam bhur, Bhuah dan swah loka. Ini sama artinya alam manusia, dan juga alam dewa-dewa sekalipun tetap terjaga dengan baik karena adanya air. Hal secara tegas dinyatakan dalam Mantra Veda berikut ini :

Apa midam nyayanam samudraysa  
Nivesanam, anya mste asmattpantu  
Hetayah pa vako asmabhyam sivo bhava                                                          

(Yajur Veda Adhyaya 17 Mantra 7)   

Artinya :

Dunia ini adalah tempat bertemunya air,  disini juga adalah tempat berkumpulnya makanan.  Biarlah tiangmu membakar yang lain dari pada kami  Jadilah pembersihmu, murah hati pada kami

Apa muta prasastabhivasva bhavatha  
Va jino ga vo bhavatha va jinih

(Atharva Veda  Adhyaya I mantra 4)

Artinya :

Didalam air-air terdapat makanan bagi para Dewa  Di dalam air-air itu mengandung obat  Dengan puji-pujian dari air-air itu Engkau menjadi kuda-kuda yang kuat, engkau menjadi sapi yang kuat.    
 
B. Harmonisasi Tatanan Kehidupan di Jagat Raya

Kemajuan  peradaban manusia pada masa milenium masyarakat modern yang kita rasakan dekade abad ini adalah perubahan sosial budaya yang sangat cepat jarak antara waktu dan ruang demikian nisbi. Kontak sosial  akan berpengaruh terhadap sikap dan pola-pola perilaku yang bermuara pada perubahan  yang bersifat surface structure, sedangkan kontak budaya bermuara pada perubahan sistem nilai, pandangan hidup, filsafat, keyakinan yang medannya adalah deep structure. Surface structure and deep structure akan berdampak langsung ataupun tidak langsung (direct and indirect imfact), terhadap tata laku dan cara menjalani hidup dan kehidupan manusia itu sendiri. Perubahan ini menganggap manusia bisa mengatur alam semesta raya ini.  

Perbuatan adalah Karma, dan mati dalam karma. Karmalah sumber baik dan buruk, dosa atau kebajikan, laba atau rugi, kebahagiaan atau kesedihan. Karma sesungguhnya adalah pencipta manusia, karena itu kita harus berhati-hati dengan karma-karma yang kita lakukan.   

Sesungguhnya air sebagai ibu yang   merawat dan memberi makan kepada isi alam sesmeta raya (Yuyam hi sthaa  ma trtamah : Rg. Veda VI. 50.7). Begitu juga sebaliknya  jika alam semesta (termasuk air) tidak diberlakukan dengan baik, maka air akan berubah menjadi racun dan bencana banjir,  untuk itu jangan mengira bahwa perbuatan itu soal yang tiada berarti. Mungkin permulaannya merupakan sebuah bibit/benih  yang kecil, tetapi  lama kelamaan akan menjadi pohon yang besar akan memberikan buah kepada yang menanam bibit/benih tersebut. Apakah buah itu memberikan kebahagiaan atau kesengsaraan kepada diri kita, sangat tergantung terhadap benih yang kita tanam. Demikian antara karma dan pahala (perbuatan dan hasil) merupakan siklus alamiah di dunia ini.

Kejadian banjir yang melanda Ibukota Negara selama sepekan tidaklah sesuastu kejadian yang tidak ada sebab-musababnya. Karena sebaik-baiknya ibu tentu ada batas, dan muncullah  kamarahannya  beruja banjir. Adanya Matahari dan bumi  merupakan sumber hujan dan air bah itu . Ketidakseimbangan kekuatan matahari dengan ekosistem menjadikan hujan yang berlebihan. Hal secara tegas dalam Veda disebutkan :

Samu u tye mahatirapah,  
Sam ksoni sam u sûryam   

(Rg. Veda VIII.7.22)

Artinya :

Para Dewa Marut mengawasi matahari dan bumi. Mereka adalah sumber hujan.
 

Dewa Marut  yang berjumlah 47 sangat kuat, masing-masing memberikan tenaga  (energi) lipat seratus.   
Untuk itu apa yang tyerjadi sesungguhnya berawal dari perilaku/karma manusia itu sendiri, hal  sangat relevan sekali apa yang dituangkan ole Bhagawan Wararuci dalam Sarasamuccaya, seloka 4 yang dinyatakan sebagai berikut :

Iayam hi yonih prathama
Yonih prapaya jagatipate  
Atmanam sakyate tratum   
karmabhih subhalaksanah

Artinya :

Kelahiran menjadi manusia sungguh utama, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan berbuat baik.

Jadi perbuatan suci sesorang  lahir dari pengabdian yang tulus , karena dengan pengabdian inilah kita akan memperoleh kemuliaan, dari kemuliaan yang kita peroleh kita mendapat kehormatan. Dengan kehormatan yang kita peroleh maka kita dapat melakukan kebenaran (Dharma). Dan akhirnya kita terbebas dari penderitaan.   

C. Mengelola Bhuana Agung

Perilaku hubungan yang selaras, serasi dan seimbang manusia terhadap sesamanya, terhadap Tuhannya, terhadap alam Semesta berserta isinya akan menjadikan manusia utama seperti halnya Sang Dasaratha. Jadi Tri Hita Karana sebagai perujudan kesejahteraan dan kebahagiaan dimana ketiga unsur Ida Sanghyang Widhi/Tuhan (super natural power),Manusia (Microcosmos),dan Alam semesta/Bhuwana (Macrocosmos) harus saling menjaga.

Hal inilah yang menjadi pola dasar tatanan kehidupan umat Hindu, yang dijadikan budaya perilaku sehari-hari, sehingga muncul konsep Tri Hita Karana mengajarkan pola hubungan yang harmoni (selaras, serasi, dan seimbang) diantara ketiga sumber kesejahteraan dan kebahagiaan ini, yang terdiri dari unsur:

1. Parahyangan, harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta (Brahman).
2. Pawongan, harmonis antara manusia dengan sesama manusia (Microcosmos).
3. Palemahan, harmonis antara manusia dengan Bhuwana (Macrocosmos).   

Konsep ajaran Tri Hita Karana ini, juga mendapat inspirasi dari Baghawad Githa, III.10 yang seloka bunyinya sebagai berikut :  

Sahayajnah prajah srishtva  
Puro’vacha prajapatih  
Anena prasavishya dhvam  
Esha vo’stv ishta kamadhuk

Artinya:

Dahulu kala Prajapati (Ida Sanghyang Widi) mencipta manusia bersama bakti persembahannya dan berkata: dengan ini engkau akan berkembang biak dan biarlah ini jadi sapi perahanmu (Kamadhuk)

Yang dimaksud dengan sapi perahan, yang bisa memenuhi segala keinginan  itu (Kamadhuk) tidak lain adalah bumi, ibu pertiwi ini, sebagaimana disebutkan dalam kitab Mahabharata (edisi Bombay VI.9.76) :  "Alam adalah pemberi segala kebaikan, alam adalah sapi yang bisa memenuhi segala keinginan (Kamadhuk)".

Hal ini jelas memberikan penegasan kepada kita bahwa cinta kasih dari seorang ibu terhadap anak-anaknya yang tiada terputus adalah ibarat cinta kasih Ibu pertiwi (alam semesta) yang memberikan makanan yang tiada henti-hentinya kepada makhluk hidup sebagai anak-anaknya. Alam semesta sebagai ibu Pertiwi tempat semua makhluk hidup mengembangkan hidup dan kehidupannya maka alam ini disebut dengan istilah Bhumi Mata.

Tumbuh-tumbuhan sebagai sthana para Dewa merupakan juru selamat umat manusia (Virudho vaisva sevir, ugrah purusa jivanih, Atharva Veda. VIII.7.4) dan juga sebagai pemberi makan dan pelindung alam semesta, maka tumbuh-tumbuhan juga disebut sebagai ibu (Osadhir iti mataras ta vi devir-upa bruve,Rg. Veda.X.97.4). Oleh karena itu alam (ibu pertiwi) harus dipelihara bersama oleh Guru Wisesa (pemerintah) dengan masyarakat.


Bhumi Mata adalah penghormatan alam semesta (bhuwana Agung) sebagai Ibu pertiwi tempat semua makhluk hidup mengembangkan hidup dan penghidupannya. Pada ibu pertiwi inilah Stavira(tumbuh-tumbuhan) janggama (hewan) dan manusia menyandarkan hidupnya.  Dari Ibu pertiwi inilah lahir berbagai benda yang dibutuhkan oleh makhluk hidup. Makanan, minuman, pakaian, perumahan, semua bahan-bahannya bersumber pada Ibu Pertiwi.

Karena Ibu Pertiwi dapat memenuhi segala keinginan makhluk hidup maka Ibu Pertiwi disebut  Kamadhenu. Kamadhenu berasal dari kata kama dan dhenu, kama yang artinya keinginan dan dhenu artinya sapi perah. Dalam mitologi, Kamadhenu adalah adalah nama sapi cosmis milik Dewa Indra yang disimbulkan sebagai sapai atau lembu sorga yang mampu memberikan apa saja yang kita inginkan. Sesungguhnya yang disimbulkan dengan lembu Kamadhenu adalah Bumi ini yang dapat memberikan apa saja yang kita butuhkan dalam hidup.

Bumi benar-benar sebagai ibu, sehingga dinamakan Ibu Pertiwi. Bahwa Bumi tanpa batas keberadaannya, hal ini dapat dilihat dari cerita Linggobhawa, dikisahkan Dewa Brahma saling adu kesaktian dengan Dewa Wisnu. Tiba-tiba dihadapan Beliau muncul Lingga sebagai perujudan Dewa Siwa. Lingga itu menjulang tinggi bagian atasnya menembus langit dan bagian bwahnya menembus pertiwi. Dewa Brahma dan Dewa Wisnu ditantang, kalau memang benar sakti tolong cari batas atas dan bats bawah Lingga ini. Dewa Brahma berubah wujud menjadi Burung lalu terbang mencari bats atas lingga.

Sedangkan Dewa Wisnu berubah bentuk menjadi Babi Hitam mencari batas bawah lingga tersebut, namun dalam perjalanannya bertemu dengan Dewi Pertiwi dan melahirkan Sang Bhoma, seorang raksasa angker sebagi simbol pertemuan air dengan tanah melahirkan tumbuh-tumbuhan( Bhoma adalah bahasa sanskerta yang artinya kayu). Dewa Brahma dan dewa Wisnu gagal menemukan batas atas dan bawah lingga. Lingga adalah tiada lain adalah wujud alam semesta yang tiada dapat dijangkau batas atas dan bawahnya. Dewa Wisnu yang kebawah berujud babi hitam adalah sifat air yang selalu turun kebawah dan Dewa Siwa yang berubah wujud Burung terbang ke atas adalah simbol kobaran api yang selalu ke atas.  

Sedangkan dipermukaan bumi ada lapisan yang disebut atmosfir. Atmosfir yang mengandung berbagai unsur, seperti udara yang bersih dan mengandung zat asam serta mampu mengatur panas matahari agar tidak langsung menembus tempat kehidupan makhluk berada. Atmosfirlah yang menyaring panas matahari sehingga dapat berguna bagi kehidupan. Maka sangat tepat apa yang ditandaskan dalam Atharva Veda, VIII.2.25, siapapun, apakah umat manusia, ataukah binatang akan hidup dengan selamat bila atmosfir dipelihara dengan segala cara untuk tujuan hidup ( sarvo vai tatra jivati, gaur asvah purnisah pasuh, ya taedam brahma kryate, paridhir jivanayakam).

Demikian bumi menyediakan kebutuhan demi kelangsungan hidup makhluk hidup, maka sangat wajar jika bumi dihormati sebagai Ibu Pertiwi. Sangatlah tepat apa yang ditandaskan dalam Weda Smrthi V.109 bahwa badan disucikan dengan air, pikiran disucikan dengan kejujuran, jiwa disucikan dengan tapa brata, dan budhi disucikan dengan ilmu pengetahuan (Adbhirgatrani suddhyanti, manah satyena suddhyanti, wadhya tapobhyam bhutaatma, budhi jnena sddyati).

Dengan kesucian lahir-bathin, dan jiwa mengalami ketenangan mendalam sehingga budhi menjadi suci sehingga cinta kasih universal dapat dilakukan dalam tata laku kehidupan sehari-hari, yaitu harmoni terhadap Ida Sang Hyang Widhi, harmoni terhadap Ibu Pertiwi sebagai ibu yang tidak pernah putusnya memberikan kebutuhan makhluk hidup, dan harmoni terhadap sesama manusia karena kita sadar bahwa jiwa dalam bentuk atma merasuki setiap makhluk hidup termasuk manusia.

I Made Sugi Ardana
Home Kegiatan Artikel Pemerintah Buku Tamu Download Forum Links