|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
HAKEKAT SIWARATRI
27 Januari 2006
Peradah.org - Di bali, cerita Siwaratri dikaitkan dengan cerita Lubdaka. Konon, pada malam siwaratri, Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan melakukan yoga. Saat yang bersamaan, dikisahkan seorang pemburu bernama Lubdaka kemalaman di hutan dan akhirnya menginap. Agar tidak dimakan binatang buas, si Lubdaka naik ke pohon dan agar tetap terjaga, sebagai pengusir kantuk, si Lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya. Dewa Siwa konon sangat senang karena Lubdaka terjaga dan 'menemani' Dewa Siwa melakukan yoga. maka ketika lubdaka meninggal, saat lembaga yudikatif kahyangan, dalam hal ini dewa yama melakukan pengadilan, datanglah satu batalyon tentara sorga yang dikirim oleh Dewa Siwa, dan membawa Lubdaka ke sorga. padahal, Dewa Yama hendak mengirimnya ke neraka karena profesi pemburu adalah dosa, membunuhi binatang-binatang tak berdosa demi kesenangan. sementara, Dewa Siwa sudah terlanjur 'sayang' dengan Lubdaka yang menemaninya suatu malam beryoga, sehingga melakukan intervensi pada putusan lembaga yudikatif kahyangan pimpinan Dewa Yama.
Cerita diatas, kalau diterjemahkan secara sembarangan, bisa berbahaya. Jadilah siwaratri dianggap sebagai malam penghapusan/penebusan dosa. ini tidak mendidik, dan cara berfikir keagamaan yang kekanak-kanakan. Hukum karmapala jelas menyiratkan bahwa manusia harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya. perbuatan baik akan mendatangkan kebaikan, perbuatan buruk akan mendatangkan imbalan yang buruk pula. kalau dengan bertapa semalaman bisa menghapus dosa, betapa 'manusiawi'nya Tuhan ? Ia bisa dibujuk, bisa dirayu-rayu, agar dosa seseorang dihapuskan. ini merendahkan Tuhan, melekatkan sifat-sifat manusia pada Tuhan! apakah Tuhan se subjective itu ? Tuhan bisa senang, bisa marah, bisa menghukum, bisa mengampuni.. jangan-jangan Tuhan yang seperti ini juga bisa ngambek, bisa menangis, minta dibelikan boneka dan kelereng...!! Kalau begitu, masih layakkah ia di puja ?
Agama harus mendidik manusia menjadi mahluk merdeka, bertanggungjawab, berintegritas dan sekaligus rasional. Pernyataan/klaim agama-agama semitik yang menggampangkan masalah, bahwa HANYA dengan menganut agama itu saja, dan mengakui keillahian nabinya, dosa-dosa manusia PASTI dihapuskan dan sorga sudah jaminan, adalah pembodohan terhadap akal budi manusia yang seharusnya rasional. Ini bertentangan dengan hukum karmapala, lingkaran hukum sebab akibat yang maha adil. tuhan seakan-akan begitu butuh doa manusia, seakan2 Tuhan akan mati jika manusia-manusia lupa berdoa. Bukan! Tuhan tidak terpengaruh oleh doa2 manusia. Tuhan tidak berlompat-lompat bahagia ketika manusia memujanya, juga tidak sedih saat manusia berduyun-duyun meninggalkan dan melupakan-Nya.
Lalu mengapa perlu berdoa ? ber siwaratri ?
Manusialah yang membutuhkan Tuhan. dengan bersemadi, berdoa khusuk, itu akan memberikan ketenangan, kecerahan batin, dan mendekatkan diri pada Tuhan, pada kesucian. dengan demikian, cahaya terang keillahian itu akan membimbing manusia menuju ketenangan, kedamaian, dan akhirnya kesuksesan. tuhan ada pada jarak persis sama dengan jarak yang dibuat manusia pada-Nya, Tuhan akan mencintai manusia persis seperti cara manusia mencintai-Nya. Bhagawad Gita mengatakan, dengan cara apapun kau datang, dengan cara itu kau kuterima. pada bagian lain disebutkan "samo ham sarva bhutesu, namo dvesyo sti na priyah. ye bhajanti tu mam bhaktya, mayi te tesu ca pi aham.." (semua mahluk adalah sama padaku, tidak ada yang terbenci atau yang tercinta. tapi bagi mereka yang memujaku, maka mereka ada di dalam aku, dan aku ada di dalam mereka). begitulah seharusnya tuhan. netral, tidak memihak kelompok tertentu, sementara itu mengkafirkan kelompok lain. manusialah yang seharusnya diberikan kebebasan untuk memilih, mau membentuk hubungan seperti apa dengan tuhan. sementara, tuhan hanya berfungsi menjaga agar hukumnya tetap berlaku. atau, mungkin malah tuhan adalah hukum itu sendiri, yang abadi, yang senantiasa berlaku adil.
Jadi, janganlah berharap tuhan akan mengampuni dosa2 kita. kitalah yang harus bertindak untuk mengurangi pahitnya akibat dosa yang kita berbuat. ibarat kopi pahit yang terlanjur kita tuang kedalam air, janganlah berdoa semalaman untuk menyuruh tuhan agar mengambil dan menyaringnya kembali. tapi, kitalah yang harus menambahkan air kedalam kopi itu, sehingga kadar larutan kopi berkurang--sehingga dengan demikian rasa pahitnya berkurang. perbesarlah bejana kesadaran dan tuangkan air kebijaksanaan, kesucian dan karma baik kedalamnya. demikian terus menerus, sehingga larutan kopi karma buruk yang pernah dibuat, akan larut dan tak terasa.
Begitulah seharusnya hidup yang bertanggungjawab. tuhan bukanlah office boy atau vacuum cleaner yang berfungsi mebersihkan dosa2 manusia. apalagi, hanya dengan bayaran puja-puji doa dan sepercik asap dari api sebatang dupa.
Selamat Hari Raya Siwaratri...
sumber: budibagus at forum Peradah.Org [http://www.peradah.org/forum]
I Made Sugi Ardana
|