Burung Enggang Simbol Mahasabha XI Peradah Indonesia

Peradah Munas Logo 03-02

Perhelatan Akbar Mahasabha XI Peradah Indonesia sudah didepan mata, seluruh keluarga besar Peradah Indonesia kini bersiap untuk mensukseskan perhelatan akbar tersebut, khususnya DPN Peradah Indonesia sebagai tuan rumah utama, yang untuk kali ini menggandeng DPP Peradah Kalimantan Tengah sebagai Tuan Rumah penyelenggara. Karena untuk Mahasabha XI ini akan dilaksanakan di Kota Cantik Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada tanggal 1-4 November 2018. Pada kesempatan kali ini, Mahasabha Peradah Indonesia akan dikemas dengan konsep yang berbeda dengan mengutamakan karya generasi muda Indonesia. Hal ini senada dengan tema yang akan diusung pada Mahasabha XI Peradah Indonesia yaitu : “Kerja dan Karya untuk Nusantara”. Tema tersebut menjelaskan bahwa, betapa generasi muda saat ini harus memiliki semangat kerja untuk menghasilkan karya yang mampu dipersembahkan untuk Nusantara tercinta.

Tema dan semangat tersebut telah digambarkan dengan lugas pada burung enggang yang merupakan simbol pada logo Mahasabha XI Peradah Indonesia. Seperti yang kita ketahui bahwa, Burung Enggang atau Burung Rangkong adalah burung yang sangat dihormati oleh masyarakat Dayak. Burung yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera ini mampu terbang hingga 1.500 m diatas permukaan laut, hal tersebut menunjukkan kekuatan dan kebesaran dari burung ini yang mampu terbang hingga lintas pulau. Burung yang termasuk dalam spesies yang dilindungi ini hampir tidak bisa dilepaskan dari kehidupan suku dayak. Makna burung enggang bagi suku Dayak menjadi salah satu tanda kedekatan masyarakat Nusantara dengan alam sekitarnya.

Masyarakat suku Dayak sangat menghormati burung enggang, dan menganggapnya sebagai panglima burung. Hampir seluruh bagian tubuh burung enggang menjadi lambang dan simbol kebesaran dan kemuliaan suku Dayak.

Burung enggang juga dianggap sebagai lambang perdamaian dan persatuan. Oleh karena itu, burung enggang dapat kita temukan di hampir setiap ruang masyarakat dayak, seperti pada patung, ukiran, lukisan, pakaian, rumah, balai desa, monumen, pintu-pintu gerbang, juga di makam-makam.

Bagi orang Dayak, Enggang juga menjadi simbol seorang pemimpin yang ideal. Hal ini dikarenakan burung enggang terbang dan hinggap di gunung-gunung dan pepohonan yang tinggi, bulu-bulunya indah, dan suaranya terdengar ke mana-mana.

Sayapnya yang tebal menggambarkan pemimpin yang melindungi rakyatnya. Suaranya yang keras menyimbolkan perintah pemimpin yang selalu didengar oleh rakyat. Ekornya yang panjang menjadi tanda kemakmuran rakyatnya. Secara keseluruhan, burung enggang menyimbolkan watak seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya.

Bulu ekornya yang memiliki warna hitam dan putih digunakan dalam pakaian adat Kalimantan dan digunakan sebagai kostum dalam tari-tarian saat upacara adat. Para penari adat menggunakan bulu enggang sebagai hiasan kepala dan jari-jari tangan.

Burung yang panjangnya bisa mencapai 150 cm ini juga menjadi lambang kesetiaan dan kerukunan. Hal ini berangkat dari cara hidupnya yang unik. Burung enggang hidup berpasang-pasangan dan tidak dapat hidup tanpa pasangannya.

Dengan demikian, sangat tepat rasanya, Simbol Burung Enggang ini juga akan mewarnai Mahasabha XI Peradah Indonesia, dengan harapan, dalam perhelatan akbar tersebut nantinya, akan melahirkan para pemimpin-pemimpin pemuda Hindu yang memiliki kekuatan, semangat, keberanian, serta kesetiaan laksana Burung Enggang. Peradah Indonesia, Jaya…!!!
[telah dibaca 97 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *