Ketua DPK Peradah Badung : Belajar Management Organisasi Zaman Now

peradah badung

Barangsiapa yang memuja para dewa pergi ke dewa-dewa, yang memuja leluhur pergi ke leluhur, yang memuja jiwa-jiwa (roh-roh) yang rendah sifatnya (bhuta) pergi ke para bhuta ini, tetapi pemujaKu datang kepadaKu (Bhagawad Gita IX.25)

Berdasarkan sloka tersebut, telah jelas bahwa kita menuju ke tempat dimana yang kita puja sepanjang hidup. Saat memuja harta maka kita akan memperoleh harta jika memuja ilmu, kita akan mendapatkan ilmu. Ibaratkan petani yang akan memanen apapun yang ia tanam, begitupula jika kita berorganisasi, kita akan mampu mewujudkan apapun yang kita rencanakan. Maka sangat penting, sejak awal organisasi sudah menentukan masterplan sebagai pedoman dalam melangkah selanjutnya. Masterplan ini berupa program program pokok organisasi yang wajib untuk dilaksanakan oleh jajaran pengurus sebagai penjabaran dari Visi dan Misi Organisasi. Semakin rinci sebuah masterplan maka semakin besar hasil yang dapat kita peroleh.

Masterplan dalam berorganisasi ini akan dikontrol melalui rapat kerja yang akan memantau keberhasilan sekaligus menyusun strategi baru berdasarkan perkembangan situasi organisasi yang terbaru. Selain rapat kerja kegiatan rutin yang wajib diselenggarakan adalah masa orientasi organisasi dan PAKEM kepemimpinan organisasi. Pakem adalah singkatan dari pembelajaran aktif,kreatif, efektif dan menyenangkan yang bertujuan mencetak jiwa kepemimpinan pada setiap anggota.

Menyusun pembagian tugas dalam organisasi juga merupakan bagian yang terpenting. Semakin banyak bidang yang dibentuk dan dijalankan maka semakin banyak mampu mencetak pemimpin dan semakin banyak pula karya karya yang tercipta. Namun, semakin banyak semakin berat dalam mengontrol karena tidak semua siap dalam memimpin. Maka dari itu perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan dari organisasi.

Berdasarkan penelitian terkait organisasi saat ini ternyata banyak anggota  tidak mampu maksimal dalam berkarya karena terhalang pemimpinnya. Selain itu tidak adanya pembagian tugas yang jelas sehingga anggota merasa kurang memiliki peran dalam organisasi. Rendahnya rasa memiliki menyebabkan anggota malas untuk aktif dalam organisasi.  Maka dari itu munculkan sebuah konsep management organisasi yang membagi atas 3 pemilahan tugas organisasi yang disebut dengan Trias Politika Organisasi. Konsep ini dicetuskan oleh penulis dengan melihat perkembangan organisasi saat ini.

Adapun Trias Politika Organisasi ini mengadopsi dari teori Trias Politika Montesque yang membagi kekuasaan pemerintahan yang terdiri dari Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Sementara Trias Politika Organisasi membagi tugas organisasi yang terdiri dari Ketua, Wakil Ketua (Ketua Bidang) dan Anggota secara keseluruhan.  Anggota memegang peran sebagai eksekutif, wakil ketua (ketua bidang) memegang peran sebagai legislatif dan Ketua memegang peran sebagai Yudikatif.

Dalam memegang tugasnya Trias Politika Organisasi juga dijiwai oleh spirit Tri Murti yaitu berkarya, memelihara dan melebur.  Anggota memiliki peran sebagai pencipta yang menjadi pelaksana  sekaligus memimpin kegiatan yang dilaksanakan. Setiap anggota berhak mengajukan program untuk organisasi.  Anggota adalah ujung tombak dalam setiap karya. Sehebat apapun anggota sebaiknya tetap fokus dalam belajar dan terus mengembangkan diri (Brahmacari).  Maka dari itu setiap anggota diberikan kesempatan lebih untuk berkembang sehingga tercipta sistem kaderisasi & regenerasi anggota yang lebih baik untuk ke depan.

Wakil Ketua/Ketua Bidang  memegang peran penting sebagai pemelihara kesatuan dalam organisasi. Wakil Ketua diberikan wewenang atas segala keputusan dan kebijakan dalam bidangnya terutama jika ketua tidak ada. Wakil Ketua menjadi pengarah dan pembimbing dalam program kerja bidangnya. Wakil Ketua juga menjalin keakraban dan memperhatikan setiap permasalahan anggotanya. Wakil Ketua/Ketua Bidang juga hendaknya diberikan kewenangan mencari dan mengelola keuangan bidangnya sehingga lebih leluasa dalam berkembang dengan wajib memberikan laporan kepada Ketua. Wakil Ketua adalah guru bagi setiap anggotanya. Wakil ketua juga fokus dalam belajar sebagai pemimpin dan memperkuat kepemimpinan dalam diri.

Ketua memegang peran sebagai pelebur yang juga menjalankan fungsi yudikatif. Ketua hendaknya selalu diposisikan sebagai penengah dalam setiap permasalahan karena tidak ada yang bisa menengahi lagi apabila Ketua memihak atau tidak berada di tengah. Ketua bertugas dalam menentukan arah organisasi dan memberikan setiap keputusan yang harus dilaksanakan.  Ketua berkewajiban menyayangi, memarahi , menegur dan memperbaiki wakil ketua yang bermasalah. Hendaknya ketua menganggap setiap anggota adalah anaknya sendiri terutama wakil ketuanya.  Ketua sebisa mungkin mengijinkan setiap program yang direncanakan oleh anggota dan wakil ketuanya selama tidak bertentangan dengan AD/ART organisasi. Ketua berkewajiban menerima pendapat dari setiap anggota namun ketua tidak dapat disalahkan ataupun menyalahkan terkecuali memang bertentangan dengan AD/ART. Adapun sanksi yang diberikan bersifat membangun tidak menjatuhkan.

Sekretaris memegang peran sebagai Ibu dari organisasi yang dapat memberikan kasih sayang kepada setiap anggota khususnya kepada Ketua. Ketua membutuhkan banyak dukungan moril dalam menghadapi tantangan dari dalam maupun dari luar untuk itu membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari setiap anggota. Sementara Ketua juga mencurahkan perhatian kepada setiap anggota khususnya wakil ketua bidangnya. Sekretaris membantu ketua dalam membangun rumah tangga organisasi, sebagai tempat curhat, berbagi dan memberikan pandangan secara pribadi kepada ketua. Sementara bendahara mengatur keuangan organisasinya sekaligus memikirkan mencari sumber dana untuk membiayai program organisasinya. Sikap saling menyalahkan akan melemahkan rasa kepemilikan dalam organisasi.

Pembagian tugas yang disusun dengan rapi tentunya akan mampu merencanakan dan melaksanakan program yang lebih besar. Selama ini organisasi tidak mampu berjalan karena banyak yang  tidak melaksanakan peran sesuai dengan posisinya. Sesana manut linggih, linggih manut ring sesama. Hendaknya perbuatan itu sesuai dengan posisinya dan posisi hendaknya menjalankan sesuai peranannya. Tata kelola yang cerdas tentunya  melahirkan hasil karya yang luar biasa.
Wahai Guruku, lihatlah tentara-tentara besar para putera Pandu, yang disusun dengan ahli sekali oleh putera Drupada, murid anda yang cerdas.

(Bhagawad Gita I.3)

Dalam menjalankan organisasi jangan pernah berbicara terkait jumlah namun jauh lebih penting solidaritas anggotanya. Terbukti Panca Pandawa yang berjumlah sedikit mampu mengalahkan seratus korawa yang sangat kuat. Begitu pula dengan teks proklamasi Indonesia  dirumuskan oleh 3 orang dan dihadiri dani hanya oleh 8 orang tapi mampu bertampak bagi ratusan juta masyarakat Indonesia.

Maka dari itu tidak ada salahnya memulai pergerakan dari kecil dan manfaatkan media dengan baik sebagai sarana menyebar luaskan ide pemikiran agat mampu berkontribusi besar bagi bangsa dan negara Indonesia.

Peradah Indonesia, Jaya !!!
[telah dibaca 124 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *