Luruskan Sejarah Majapahit DPN Peradah dan PP KMHDI Gelar Diskusi Publik

WhatsApp Image 2017-07-23 at 10.30.09

Jakarta – Dengan maraknya tulisan-tulisan yang mengatakan bahwa Kerajaan Majapahit yang identik dengan kesultanan Islam dan Gajah Mada merupakan patih yang bernama asli Gaj Ahmada, membuat DPN Peradah Indonesia dan PP KMHDI mencoba menjawab keresahan yang timbul karena akan merusak tatanan sejarah yang sebenarnya terjadi dengan menggelar diskusi publik bertajuk ‘Jangan Lupakan Sejarah, Tolak Rekayasa Sejarah Majapahit’.

WhatsApp Image 2017-07-23 at 11.15.23

Diskusi menghadirkan Sekjen Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI) Ketut Budiasa dan Dosen Arkeologi FIB UI Prof. Agus Aris Munandar di bilangan Cikini, Jakarta selatan Minggu (23/7). Menurut Suwiasa yang merupakan Presedium KMHDi, jika tidak mengambil langkah atas peristiwa itu, bisa berdampak luas.

Lantaran ke depan akan berpengaruh kepada anak cucu kita yang akan merasakan pelencengan sejarah tersebut. “Jadi kita harus bicara dengan fakta real untuk meluruskan sejarah Majapahit,” imbuhnya.

Sedangkan Sekjen Peradah I Gede Ariawan mengatakan, diskusi tentang itu dilakukan, karena klaim itu sudah menjadi viral. “Untuk itu perlu diluruskan sejarahnya,” imbuhnya.

Dosen Arkeologi Fakultas Ilmu  Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Agus Aris Munandar menyayangkan pemikiran seperti itu. Terlebih sudah ada penelitian sebelumnya mengenai kerajaan Majapahit. Ia menganggap penulis buku tentang itu tidak paham sejarah Majapahit.WhatsApp Image 2017-07-23 at 11.15.25
“Apa yang disimpulkannya keliru. Sebagai peneliti, kami dilecehkan dengan buku itu, seakan penelitian kami dilecehkan. Agama yang dianut kerajaan Majapahit adalah Hindu-Budha,” terangnya. Menurut Agus, dalam Nagarakertagama disebutkan kerajaan Majapahit mewariskan tiga tempat suci yakni candi.

Candi identik dengan Hindu bukan agama lainnya. Dalam Nagarakertagama pula disebutkan tiga pejabat tinggi keagamaan. Pertama Saiwadyaksa mengurusi candi Hindu-Saiwa, parahyangan dan kalahyan. Kedua, Boddadyaksa mengurusi candi bauddha, stupa, kuti dan wihara.

Ketiga Mantri her haji yang mengurusi karsyan dan tempat pertapaan. Kalau pun penulis buku mengatakan, kerajaan Majapahit adalah Kesultanan Islam karena ditemukan nisan berlafazkan syahadat, bukan berarti kerajaan tersebut Kesultanan Islam.

Adanya koin berlafazkan syahadat juga tidak bisa dianggap Majapahit sebagai Kesultanan Islam. Sebab, pada masanya kerajaan Majapahit adalah kerajaan besar sehingga banyak orang berdatangan. Koin-koin itu adalah bawaan dari mereka yang berlaku di Majapahit.

WhatsApp Image 2017-07-23 at 11.15.17

Terkait Gajah Mada adalah Muslim yang bernama Gaj Ahmada, Agus membantah. Pasalnya dalam prasasti tidak menunjukkan itu. Justru prasasti Bendosari menjelaskan, Gajah Mada menguasai ilmu pemerintahan.

Secara garis besar, Agus menyimpulkan Majapahit adalah kerajaan bercorak budaya Hindu-Buddha terbesar dan terakhir di Jawa atau Indonesia. Dalam masyarakat Majapahit, berkembang agama Hindu-Saiwa, Budha Mahayana-Tantrayana, Parwatarajadewa+Karsyan, Islam dan Gramadewata.

Sementara Sekjen ICHI Ketut Budiasa menegaskan, kerajaan Majapahit adalah kerajaan bercorak Hindu. Hal itu berdasarkan beberapa prasasti. Antara lain, prasasti Waringin Pitu dari jaman Majapahit

Peradah Indonesia, Jaya !!!
[telah dibaca 141 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *