Sosialisasi Lembaga Penjamin Simpanan – Berperan Memperkuat Sistem Perbankkan di Indonesia

img20161202172348

BANGLI-Selama ini meski relatif aman menyimpan uang di bank, namun sebagian masyarakat kerapkali dihantui rasa was-was. Apalagi simpanan dalam jumlah yang besar. Kebangkrutan perbankkan juga kerap membayangi nasabah. Untuk menjamin keuangan di bank, keberadaan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) amat penting untuk memperkuat sistem perbankkan yang ada di Indonesia.

Hal ini mencuat dalam Sosialisasi LPS yang bertajuk “Peran Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam Memperkuat Sistem Perbankkan Indonesia” Jumat (2/12) di Pasraman Gurukula, Bangli yang digelar oleh Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perhimpunan Pemuda Hindu (Perdah) Indonesia dan Dewan Pimpinan Provinsi Peradah Bali. Ada tiga narasumber yang hadir pada kesempatan tersebut yakni Eksekutif Vice President Lembaga Penjamin Simpanan Bapak Poltak Lumbun Tobing, Anggota Komisi XI DPR RI I Gusti Agung Rai Wirajaya SE MM, dan Akademisi Universitas Udayana Prof. Dr I wayan Suartana. Materi yang berjudul “Peran LPS dalam Memelihata Stabilitas Sistem Perbakkan” yang dibawakan oleh Poltak Lumbun Tobing mengupas empat poin penting diantaranya ruang lingkup keberadaan LPS, Kinerja LPS, Resolusi Bank hingga Pendanaan Resolusi Bank.

Poltak Lumbun Tobing menjelaskan fungsi utama dari LPS yakni menjamin simpanan nasabah dan aktif memelihara stabilitas perbakkan sesuai dengan kewenangannya. Selain itu, tambajh Poltak, LPS juga memiliki tugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan Penjamin Simpanan. “Misalnya dalam penyelesaian Bank gagal yang tidak berdampak sistemik dan penanganan bank yang berdampak sistemik,”kata Poltak dihadapan para peserta Sosialisasi yang dihadiri 250 peserta dari kalangan perbankkan, pengusaha, pengajar, komunitas, organisasi kepemudaan, akademisi, hingga mahasiswa.

Lebih lanjut, Poltak memaparkan adapun jenis simpanan yang dijamin oleh LPS selama ini yakni Giro, Deposito, Sertifikat Deposit, Tabungan dan bentuk lain yang dipersamakan. Selain pada bank konvensional, pihaknya juga menjamin pada bank Syariah.

“Per nasabah jumlah simpanan yang dijamin maksimal Rp 2 milyar,”katanya. Sejak LPS beroperasi 2005-30 September 2016, LPS telah melakukan penanganan simpanan terhadap 75 bank yang dicabutkan izinnya dan 71 bank telah selesai proses rekonvernya. Ada pun jumlah bank peserta dan simpanan yang dijamin yakni bank umum mencapi 118 bank dengan jaminan Rp 2.519 T, BPR/BPRS 1.794 dengan total Rp76 T.

Anggiota Komisi XIDPR RI I Gusti Agung Rai Wirajaya menguraikan lebih banyak tentang sistem perbankkan dalam perekonomian Indonesia. Ia menyoroti bisa saja keadaan yang bisa mengancam stabilitas keuangan Indonesia diantaranya yakni ketidkapercayaan masyarakat terhadap system keuangan yang umumnya akan diikuti perilaku panik investor untuk menarik dananya sehingga mendorong terjadinya kesulitan likuiditas. Belum lagi masalah lainnya seperti sangat tingginya biaya penyelamatan terhadap sistem keuangan apalabila terjadi krisis yang bersifat sistemik.

Untuk menyikapi hal tersebut, ia memberikan solusi agar dilakukan indentifikasi maslaah terhadap system keuangan yang bersifat melihat apa ayang akan terjadi kedepannya. Disamping menggali potensi resiko yang akan timbul. “Atas dasar hasil identifikasi selanjutkan dilakukan analisis untuk mengetahui seberapa jauh resiko yang berpotensi membahayakan dan meluas sehingga dapat melumpuhkan perekonomian,”tegasnya.

Akademisi Unud Prof. Dr. I wayan Suartana memberikan materi mengenai “Manajemen Risiko dan Tata Kelola Lembaga Keuangan”. Menurutnya dalam industri keuangan sering dan rentan terjadi kecurangan. Untuk itu ia memaparkan tiga solusi untuk menyikapi hal tersebut seperti manajemen resiko dan tata kelola yang baik, disiplin pengaturan dan disiplin pasar yang berkaitan dengan kebijakan dalam bentuk pembatasan jumlah yang dijamin, pembatasan jenis yang dijamin hingga pengaturan prioritas pembagian hasil likuidasi. Secara rinci, Suartana juga memaparkan system pengelolaan lembagakeuangan mulai dari menetapkan strategi, pengindentifikasi resiko, menilai resiko, menanggapi resiko, mengendalikan resiko, hingga mengkomunikasikan dan memantau lembaga keuangan.

“Hal yang tak kalah penting juga adalah pengawan internal berbasii risiko lembaga keuangan. Kegiatan ini fokus dan memprioritaskan pemeriksaan berbaisis resiko,”tegasnya.

Sementara itu Ketua DPP Peradah Indonesia Bali Ida Ayu Made Purnamaningsih menjelaskan kegiatan sosialissi LPS penting kepada masyarakat luas. Terutama dalam hal edukasi mengenai LPS yang memiliki peran strategis dalam menjamin uang nasabah di perbakkan. Selama ini, kata dia masyarakat cukup resah dengan munculnya berbgai lembaga keuangan khususnya dengan tawaran bunga yang fantastis. Sosialisasi ini juga dirangkai dengan penyerahan beasiswa kepada 10 pelajar kurang mampu dari LPS kepada pelajar di Pasraman Gurukula, Bangli. Peradah Indonesia, Jaya…!!!

img20161202163525
Posbali/ist
Foto: Sosialisasi yang dilakukan oleh LPS di Pasraman Gurukula, Bangli Jumat (2/12) sekaligus penyerahan beasiswa kepada 10 pelajar kurang mampu.
[telah dibaca 247 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *