NGERETAKEUN BHUMI LAMBA, UPACARA RUWAN BUMI SUNDA WIWITAN YANG MENYATUKAN HINDU NUSANTARA DALAM KEBERSAMAAN

11

Nusantara merupakan negara kepulauan yang terbentang dari timur ke barat dan dari utara ke selatan. Hindu di Nusantara terdiri dari berbagai keyakinan yang berakar dari kearifan budaya lokal masing-masing daerah yang memiliki satu filosofi yang sama, namun dalam praktik-praktik keagamaan yang berbeda.

Sunda Wiwitan merupakan keyakinan lokal masyarakat Jawa Barat yang sangat kental akan rasa bhakti kepada leluhur dan alam semesta. Pada hari Minggu (26/06), masyarakat Sunda Wiwitan melaksanakan upacara ruwat bumi yang disebut dengan Ngeretakeun Bhumi Lamba di Gunung Tangkuban Parahu, Jawa Barat.  Dalam upacara ini berkumpullah umat Hindu dari kepulauan Nusantara dari timur hingga ke barat, yaitu dari Papua (Raja Singklok), Kalimantan (Dayak), Bali, Jawa Timur (Madura), Kejawen Yogyakarta, Jawa Tengah, Cirebon, Jakarta, Sumatera (Batak Karo), Lampung, dan Jawa Barat (Sunda Wiwitan).

Upacara yang digelar di Gunung Tangkuban Parahu ini diawali dengan sekapur sirih dari para perwakilan dan tetua adat masyarakat Hindu Nusantara dan upacara berbagi pinang sirih dari Raja Singklok kepada seluruh tetua adat dan perwakilan masyarakat Hindu Nusantara sebagai simbol kekeluagaan dan persatuan. Selanjutnya, yaitu upacara serah terima “Jaro” yang telah dipangku selama sewindu oleh Jaro Manik kepada penerusnya, yaitu Jaro Wastu yang akan melaksanakan tugas-tugas mengampu dan melestarikan budaya leluhur Sunda Wiwitan selama delapan tahun kedepan. Upacara dilanjutkan dengan pemujaan dan bhakti kepada Sang Penguasa Jagad Raya dengan sesaji Sunda Wiwitan, Jawa, Bali dan lain-lain yang diringi dengan musik tradisional Sunda Wiwitan yang saling bersahutan dengan mantra Sunda Wiwitan, mantram Gayatri, kidung Jawa, dan mantram Papua yang mengalun merdu. Asap dupa, bakaran kemenyan, dan wangi bunga menyelimuti area pemujaan yang menerasuk kalbu dan menenteramkan jiwa. Tarian dari berbagai etnis dan suku yang hadir pun menambah rasa haru dan khidmat upacara ini. Tak sedikit dari umat yang hadir hingga tak dapat menahan air mata sembari memanjatkan doa kehadirat Sang Pencipta. Prosesi ini diakhiri dengan pemercikan air suci/tirtha sebelum dilanjutkan dengan prosesi berikutnya di kawah Gunung Tangkuban Parahu.

Selanjutnya, upacara dilanjutkan dengan mengarak dan melarung persembahan ke kawah Gunung Tangkuban Parahu yang terletak kurang lebih 3 kilometer dari lokasi upacara. Dalam upacara ini, sesajian yang akan dilarung diletakkan di pelataran kawah yang dimulai dengan doa dan tarian yang dipersembahkan untuk menyucikan alam semesta beserta isinya. Usai tari-tarian dan kidung yang diiringi dengan musik tradisional Sunda Wiwitan ini, maka tibalah saatnya melarung sesajian/persembahan. Upacara larungan ini dimaksudkan untuk mengembalikan apa yang telah diberikan oleh alam kepada alam dan melarung segala beban setiap individu sehingga keseimbangan alam tetap terjada dan ketenteraman jiwa dapat diperoleh setiap individu. Suara alat musik tradisional memenuhi udara yang dibalut dengan asap dupa dan kemenyan dan rasa haru dalam doa yang dipanjatkan mengantarkan seluru sesaji untuk dilarung di mulut kawah Gunung Tangkuban Parahu bersama seluruh beban kehidupan setiap individu umat se-dharma yang hadir saat itu, termasuk melepas sepasang burung perkutut ke alam bebas sebagai bentuk rasa welas asih umat manusia terhadap sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Usai melarung sesaji, seluruh umat se-dharma pun diperciki air suci/tirtha.

Upacara Ngeretakeun Bhumi Lamba merupakan upacara Sunda Wiwitan yang tidak hanya mampu menunaikan kewajiban pemeluknya terhadap alam semesta dengan melaksanakan persembahan/kebhaktian, namun juga dapat menyatukan segala perbedaan yang ada dari sekian banyak etnis dan suku masyarakat Hindu di Nusantara dalam sebuah upacara yang khidmat dan penuh rasa syukur. Dengan ini pula kita dapat belajar untuk menjadikan perbedaan sebagai suatu kekuatan, bukan sebagai kelemahan; dimana perbedaan bukanlah suatu penghalang bagi kebangkitan, tetapi justru mengajarkan kita arti rasa menghargai perbedaan itu sendiri dengan rasa persatuan yang dibalut dengan kasih sehingga kita semakin kuat untuk bangkit bersama demi kejayaan Hindu Nusantara, Sanatana Dharma. Semoga di hari-hari mendatang semakin banyak upacara semacam ini yang dapat semakin mengeratkan rasa persaudaraan dan cinta kasih antar umat Hindu se-Nusantara. Salam Rahayu, Sarvam Shanti. Peradah Indonesia, Jaya…!!!

12

Sejajian dalam upacara Ngeretakeun Bhumi Lambayang akan dilarung di kawah Gunung Tangkuban Parahu

13

Prosesi Upacara Ngeretakeun Bhumi Lamba yang menyelaraskan perbedaan

 

 

 

 

 

 
[telah dibaca 397 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *