Air untuk Kemakmuran Bali

danau batur bali

Bagi umat Hindu Bali, air merupakan sumber kehidupan yang wajib dipelihara. Begitu pula Danau Batur dan Gunung Batur yang dipercaya sebagai istana Dewi Danu, dewi pelindung pertanian. Tak heran, Danau Batur dipagari banyak pura dengan dupa persembahyangan yang tak henti untuk kemakmuran Bali.

 

”I rika Sang Gnijaya mawarah-warah ring wong Bali kabeh: mangke angenemu mretha. Aywa sira lupa, nunas mretha ring hulundanu, apan manira ngamrethanin wong Bali kabeh, tan paran mapinunas mretha ring parahyangan ira ring hulundanu ngawe gemuh ikangrat… (Di sini, Sang Gnijaya bersabda kepada rakyat Bali: sekarang kalian mendapatkan air sumber kehidupan. Jangan lupa mohon amertha di Hulundanu, sebab akulah yang menghidupi masyarakat Bali semua. Barang siapa memohon amertha kepadaku niscaya akan memperoleh kemakmuran…).”

Kutipan kalimat dari prasasti tua itu dipajang di papan besar di bagian muka Pura Hulundanu Batur di tepi Danau Batur di Desa Pakraman Songan, Bangli. Pura Hulundanu Batur merupakan stana (kediaman) Dewi Danu yang dibangun tahun 380 Saka atau 458 Masehi oleh adiknya, Sang Hyang Gnijaya, yang beristana di Gunung Lempuyang dan Sang Hyang Putrajaya yang bermukim di Besakih, Gunung Agung.

Mereka bertiga adalah putra Sang Hyang Pasupati yang diberi gelar Sang Hyang Tri Purusha. Bathara Pasupati, yang tinggal di Gunung Semeru, memerintahkan anaknya itu untuk menjaga kemakmuran Bali. Selain di Pura Hulundanu Batur, pemujaan bagi Dewi Danu juga dilaksanakan di Pura Ulun Danu Batur yang terletak di tepi Jalan Raya Kintamani.

Oleh karena kesaktian Dewi Danu, umat Hindu Bali hingga kini tetap setia mengaturkan sesaji ke Gunung Batur agar terhindar dari bencana terkait pertanian. Gunung Batur dalam Lontar Sesana Bali dipercaya sebagai puncak Gunung Mahameru yang dipindahkan untuk menjadi stana Dewi Danu. Danau Batur juga dipercaya sebagai pengejawantahan Dewi Danu.

Meski tiada perayaan upacara besar, seperti piodalan yang digelar tiap Purnama Kapat setiap tahun atau karya Manca Walikrama setiap 10 tahun, Pura Hulundanu tak pernah sepi dari umat yang bersembahyang. Pura ini pusat Pura Subak (tempat suci yang melindungi pertanian).

Umat melakukan pemujaan seperti mendak tirta atau mengambil air suci dengan sujang dari batang bambu yang dihias. Air suci menjadi sarana penting untuk melaksanakan ritual lanjutan di wilayah subak atau irigasi pertanian masing-masing.

Jumat (14/8), beberapa pasang suami-istri tampak berdoa untuk amertha atau kehidupan. Mereka lebih dulu melukat atau membersihkan diri di Pura Segara Hulundanu di tepi timur laut Danau Batur. Untuk menjaga kesucian tirta di Pura Segara Hulundanu, warga sekitar dilarang mandi hingga batas 100 meter dari gerbang pura. Setelah penyucian diri, barulah mereka berdoa di Pura Hulundanu Batur dengan dipimpin Jero Mangku Gede Hulun Danu Batur (51).

Harmonisasi alam

Seusai memimpin persembahyangan, Jero Mangku melepas alas kaki dan naik ke pelataran pura bagian atas. Di pelataran itu terdapat palinggih (tempat suci) Padma Tiga yang berusia sama dengan Pura Hulundanu Batur yang terbuat dari paras tanah liat yang merupakan stana Sang Hyang Tri Purusa. Tepat di samping Padma Tiga, berdiri meru tumpang sebelas dengan arca pewayangan Dewi Danu yang memegang kendi air suci dan merupakan lambang kesuburan.

Dewi Danu membawa cakra pula, yang identik dengan Dewa Wisnu. Pura Hulundanu memang didedikasikan untuk Dewa Wisnu, manifestasi Tuhan sebagai sumber kemakmuran. Ia lambang kesuburan. Kosong, tetapi berisi penuh. Tidak ada pangkal, tidak ada ujung, tidak ada batas. Itulah Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Pusat amertha. Jika berhubungan dengan amertha, seharusnya bersembahyang ke Hulundanu.

Keselarasan dengan alam juga tampak dari kehidupan spiritual warga ketika menggelar upacara piodalan. Terletak di bukit di tepi Danau Batur, piodalan di Pura Dalem Buahan, Senin (17/8), juga memakai tirta penyucian serta tirta berkah dari Danau Batur untuk proses penyucian diri.

Isi sesaji banten atau persembahan bagi leluhur tak lepas dari keintiman dengan Danau Batur, yaitu masakan olahan ikan. Menurut Kepala Desa Buahan Wayan Suardi, ikan bagi leluhur lebih baik jika berupa ikan lokal Danau Batur, seperti ikan deleg (gabus) atau ikan tawes. Persembahan daging ayam dilarang.

Di antara tumpukan banten rarapan, yang antara lain berisi pakaian, rokok, pasta gigi, dan minuman kemasan, Ketut Wana (40) menaruh masakan dua ikan Danau Batur yang diolah dengan bumbu kelapa di bagian paling atas dari persembahan. ”Ikan ini untuk leluhur. Perlakuannya sama seperti saat mereka belum meninggal,” ujarnya.

Sejak siang hari sebelum piodalan dimulai, para pria sibuk memikul banten teganan yang ditujukan bagi Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Para perempuan juga mengusung banten rarapan danajengan di atas kepala. Setiap warga yang datang ke pura mendaftarkan diri untuk cacah jiwa dengan membayarkan uang kepeng sejumlah anggota keluarga.

Piodalan diawali dengan penyucian semua arca yang menjadi simbol Hyang Widhi. Suara kerumunan warga yang saling bicara segera terhenti ketika genta berbunyi dan upacara sembahyang yang diikuti lebih dari 1.800 warga Desa Buahan ini dimulai dengan upacara bakti pepawonan. Persembahan bagi Dewa Siwa berupa bebek pun diaturkan dengan dipimpin 16 pedulun desa.

Gunung-danau

Setelah upacara piodalan, warga memasuki upacara nyepi desa. Selama 32 hari, tak ada prosesi seperti pernikahan atau pembunuhan binatang yang boleh digelar. Dulu, wilayah desa selama proses nyepi tak boleh dimasuki orang luar. ”Dulu, kalau orang lewat sini, kena denda. Kalau sekarang harus elastis dengan keadaan. Sudah jalan umum,” kata Nyoman Tara, Penengen (Bendahara) Desa Adat Buahan.

Lewat persembahyangan, Penyarikan (Juru Tulis) Desa Buahan I Wayan Pukel menyatakan, warga juga berterima kasih kepada Dewi Danu. Warga Desa Buahan juga mengambil air suci untuk subak dari Pura Ulun Danu di Kintamani yang diampu oleh 45 subak di Bali.

Dari sisi spiritual, jelas budayawan Bali, Prof Dr I Made Bandem, terdapat konsep dikotomi dualistik antara gunung dan laut. Gunung selalu dianggap berada di posisi utara, sebaliknya laut atau danau berada di selatan. ”Gunung adalah simbol suci. Sakral. Gunung dianggap hulu atau kepala. Tempat dewa turun ke dunia ini. Tempat tertinggi adalah gunung,” tutur Bandem.

Walaupun gunung dan laut memiliki kekuatan suci yang sama, laut dianggap sebagai tempat sekuler dalam konsep keseimbangan. Apalagi, air pun sejatinya juga berasal dari gunung yang keluar sebagai mata air dan mengalir ke danau hingga samudra. ”Air bagi masyarakat tidak lepas dari kehidupan beragama. Api dan air menjadi sumber energi spritual,” ujarnya.

Dalam tatanan kosmologi Bali, laut—dalam hal ini Danau Batur—dan gunung menempati posisi sangat penting sebagai pasangan yang saling melengkapi.

sumber: KOMPAS |  Minggu, 30 Agustus 2015 | Oleh: Mawar Kusuma
[telah dibaca 654 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *