Tak Ada Mayoritas dan Minoritas di Indonesia

peradah bersama MPR

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengatakan, persoalan suku, agama, ras, dan kelompok golongan merupakan permasalahan masa lalu yang harus ditinggalkan. Memasuki usia kemerdekaan yang hampir mencapai 70 tahun, kata Zulkifli, permasalahan tersebut seharusnya sudah selesai.

“Sekarang kita berbicara Bhinneka Tunggal Ika. Agama, suku, ras kelompok golongan itu kita bicarakan 70 tahun lalu. Itu tidak boleh lagi retorika, apalagi basa basi,” kata Zulkifli saat memberi testimoni dalam acara Malam Apresiasi 31 Tahun Peradah Indonesia di Ruang Teater Wisma Kemenpora, Jakarta, Sabtu (4/4) malam.

Zulkifli mengatakan, negara besar yang dipenuhi dengan keberagaman merupakan kekuatan sekaligus tantangan bagi Indonesia. Sebagai negara yang menjadikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi, lanjutnya, adalah sebuah tanggung jawab bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memelihara persaudaraan dan persatuan.

“Apapun agama, kelompok, suku kita, kita adalah Indonesia. Kita memiliki hak dan kewajiban yang sama di negara ini. Tidak ada mayoritas minoritas. Tidak ada UU yang membedakan kita,” ujarnya.

Zulkifli menyebutkan, Indonesia menghadapi tantangan kebangsaan yang berbeda saat ini. Tantangan pertama, yakni kemiskinan. Perbedaan antara kaya dan miskin, lanjutnya, semakin jauh dan jelas terlihat.

“Di Jakarta orang bingung mau milih makan apa. Di desa-desa ada yang hari ini bingung makan apa, nggak tahu mau makan apa. Itu tantangan kita sekarang,” kata Zulkifli.

Tantangan kedua, lanjut Zulkifli, adalah sumber daya manusia (SDM). Indonesia yang berpenduduk besar dan memiliki sumber daya alam yang melimpah harus bisa dimanfaatkan sebagai kekuatan.

“SDM lah yang menentukan. Bagaimana SDM kita, kualitas pendidikan kita. Bonus demografi kita yang besar kalau tidak dimaksimalkan akan jadi bencana,” ujarnya.

Selain itu, membenahi pemerintahan dan demokrasi, kata Zulkifli, juga menjadi tantangan kebangsaan Indonesia. Memelihara pluralitas atau keberagaman pun ikut menjadi tugas bersama dengan cara saling mengedepankan toleransi dan memelihara rasa persaudaraan dan kesatuan sebagai bangsa.

“Bukan soal perbedaan. Perbedaan itu anugerah dari Tuhan. Kita dibuat berbeda itu hukum tuhan agar kita bersaing, berlomba untuk saling menjaga bumi dan memakmurkan manusia,” kata politikus PAN itu.

Redaktur: Dwi Murdaningsih
Reporter: c82

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/mpr-ri/berita-mpr/15/04/05/nmbim2-tak-ada-mayoritas-dan-minoritas-di-indonesia
[telah dibaca 509 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *