Tergantung pada Kaca…

Lukisan kaca nagasepaha karya I Ketut Suamba

Oleh:

Kalau penyair bekerja berdasarkan kata, pelukis di Nagasepaha, Bali, sepenuhnya tergantung pada kaca. Lewat selembar kaca, mereka memantulkan ekspresi artistik, meneguhkan sikap moral, dan memelihara nilai yang selama ini mereka warisi dari para leluhur.

Siang di pengujung tahun, Desa Nagasepaha, Kabupaten Buleleng, Bali, sangat terik. Dua sepupu yang tinggal di satu halaman, I Ketut Santosa (43) dan I Wayan Arnawa (43), sedang sibuk di beranda rumah masing-masing. Santosa membuat sketsa lukisan terbarunya, sementara Arnawa sibuk menatah wayang. Ketukan palu Arnawa di atas pangkal pahat seolah menjadi detak jam dinding di tengah kesunyian desa.

Di desa yang sunyi dan terik inilah cikal bakal lukisan kaca nagasepaha bermula. Santosa dan Arnawa adalah dua dari puluhan penerus langsung seni lukis kaca nagasepaha yang ditemukan kakek mereka, mendiang Jro Dalang Diah (I Ketut Negara), tahun 1927. Dalam ranah seni rupa, lukisan kaca nagasepaha relatif berusia muda, tetapi telah menjadi sumber inspirasi kelangsungan kehidupan di desa.

Desa Nagasepaha kini dikenal sebagai salah satu desa yang sudah beranjak melewati garis kemiskinan. Meski sebagian besar warga, yang berjumlah lebih dari 800 jiwa, hidup dari pertanian, sebagian lain melakoni hidup sebagai seniman dan perajin. Selain lukisan kaca, Nagasepaha juga dikenal sebagai pusat kerajinan wayang kulit di Bali serta rumah para pengukir. Sementara para perempuan, selain menenun, juga menjadi perajinsaab mote (tudung saji).

”Lukisan kaca nagasepaha lahir dari seorang maestro. Jro Dalang Diah merupakan dalang wayang yang hebat, pengukir yang tekun, dan pelukis yang menciptakan,” kata peneliti wayang kaca dan dosen Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Hardiman. Seniman Polenk Rediasa yang menemani perjalanan ke Desa Nagasepaha juga beranggapan bahwa seni telah memberdayakan warga Nagasepaha. ”Lewat seni, mereka membuka ruang-ruang imajinasi dan inspirasi, kemudian berujung pada pemuliaan nilai,” ujar Polenk yang juga dosen di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja.

Bahwa kemudian seni membawa dampak ekonomi, hal itu sudah selayaknya. Menurut Polenk, tidak pantas memperdebatkan perkara seniman atau perajin dalam konteks kesenian dan kebudayaan di Bali. Kategorisasi itu hanya akan mengucilkan kesenian dari pelukan para seniman di desa, seperti Jro Dalang Diah, Santosa, dan Arnawa. ”Mereka selalu bekerja dengan ikhlas. Bahwa kemudian membawa dampak ekonomi, itu juga terjadi dalam dunia seni kontemporer, yang bahkan berlimpah materi,” kata Polenk.

Tidak hanya Santosa dan Arnawa, paman mereka, I Ketut Suamba (71), sampai kini juga menjadi pelukis kaca nagasepaha dan penatah wayang yang terkenal. ”Saya tidak diajar langsung oleh Jro Dalang, tetapi dari melihatnya bekerja, saya bisa,” ujar Suamba tentang peran ayahnya. Enam anak lelaki dari delapan anak Jro Dalang Diah merupakan seniman dengan berbagai keahlian. ”Selain lukisan kaca, yang lain juga bisa menatah wayang, mengukir, dan menabuh gamelan,” kata Suamba. Siang itu, lantaran panas yang menyengat, Suamba melukis tanpa mengenakan baju di beranda rumahnya, tempat dulu Jro Dalang Diah bertempat tinggal.

Sejarah kreatif

Lukisan wayang kaca nagasepaha tercipta gara-gara seorang bernama I Wayan Nitia mendatangi Jro Dalang Diah tahun 1927. Nitia membawa lukisan kaca dengan gambar perempuan Jepang. Ia ingin Jro Dalang Diah membuatkannya lukisan serupa, tetapi bergambar wayang. Selain pelukis, Jro Dalang Diah, sebagaimana namanya, merupakan penatah wayang dan dalang yang terkenal di Buleleng. Tanpa basa-basi, Jro Dalang Diah menyatakan sanggup.

Dengan segenap perasaan ingin tahu, ia mulai mengerik cat dalam beberapa sisi lukisan perempuan Jepang itu. Dari sana, Jro Dalang mengerti teknik dasar dan pewarnaan melukis di atas kaca. Menurut penelitian Hardiman, lukisan pertama Jro Dalang Diah justru terbalik. ”Tangan kanan salah satu tokoh wayangnya tidak tampak di atas kaca karena ia lupa bahwa teknik melukis di kaca terbalik dengan di atas kanvas,” ujar Hardiman.

Belajar dari kesalahan itu, Jro Dalang Diah kemudian lebih dikenal sebagai pelukis kaca daripada sebagai dalang wayang kulit. Ia bahkan tak segan-segan mengajarkan teknik melukis di atas kaca kepada siapa saja di Nagasepaha. Sebagaimana karakter kesenian di Bali, penciptaan dan penemuan dianggap menjadi milik kolektif. Dengan cara itulah, seni kemudian tumbuh menjadi pemberdaya. Hal itu tidak saja bermanfaat sebagai media pewarisan nilai, terutama ajaran moral dalam kisah-kisah wayang, tetapi juga menghidupi secara ekonomi. Desa seperti Nagasepaha, yang memiliki potensi alam minim, bisa menggeliat dan dikenal publik luas gara-gara lukisan kaca.

Bahkan, menariknya, gambar-gambar wayang di atas kaca karya para seniman Nagasepaha dipergunakan sebagai ornamen sakral di sejumlah pura di Buleleng dan sekitarnya. Hal itu menjadi pertanda bahwa kreativitas seni selalu menempati wilayah yang kudus karena berasal dari ketulusikhlasan dan rasa bhaktiyang ”sungguh”. Kini dan sampai nanti, lukisan kaca nagasepaha menjadi cerminan semangat hidup warga desa. Dalam kesunyian alam desa, Jro Dalang Diah merupakan api abadi yang terus hidup dan berkobar di hati para seniman penerusnya.
[telah dibaca 905 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *