Supartama Meregenerasi Seni Tari dan Tabuh

anak agung supartama

DEMI pelestarian seni dan budaya, seniman Anak Agung Ngurah Bagus Supartama (36) rela mengajar tanpa dibayar. Ia pun meregenerasi sejumlah anak-anak untuk cinta dan berprestasi menari, mendalang, serta menabuh gamelan.

Dalam keseharian, Supartama tak pernah lepas dari berkesenian. Seni sudah menjadi seperti napas dalam hidupnya. Mulai seni tari, topeng, hingga tabuh-tabuhan, semuanya dilakukan dalam satu tarikan napas. Semua dilakukannya secara total, baik saat mengajar di dalam kelas maupun di pendopo miliknya yang dinamai Pasraman Praba Budaya di Denpasar, Bali.

Pasraman yang didirikannya hampir 15 tahun lalu itu, tak pernah sepi dari beragam kegiatan kesenian. Meski ia hanya bisa mengajar kepada belasan anak-anak dan remaja untuk menari, dalang dan tetabuhan sepekan tiga kali, setiap hari selalu saja ada yang datang.

”Saya senang anak-anak ramai di pasraman. Apalagi, ramainya mereka itu untuk belajar berkesenian. Rasanya amat senang dan bahagia melihat mereka menari,” kata Supartama.

Baginya, semua anak-anak yang datang untuk belajar seni merupakan penghargaan. Apalagi, menurut Supartama, zaman sekarang tidak mudah mengajak anak untuk serius menekuni seni dengan benar dan baik. Apalagi, teknologi hiburan makin canggih dan menarik.

Selain itu, belajar berkesenian di Bali bukan berarti sekadar menghapal dan lihai menari, mendalang, dan menabuh. Berkesenian di Bali, merupakan totalitas kehidupan.

”Bagaimana pun di Bali, penari harus bisa membedakan mana tarian untuk tontonan, dan mana untuk upacara keagamaan. Beberapa penari kurang memahami ini,” katanya.

Menari tak hanya asal menari. Dalang tak hanya asal mendalang, begitu pula menabuh. Karena itu, Supartama mengajarkan kepada anak didiknya tentang filosofi dan pemahaman yang benar tentang kegiatan kesenian yang mereka lakukan.

Pasraman ia dirikan untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak berbakat. Ia tak memungut biaya untuk kelas kesenian yang dibukanya untuk anak-anak berbakat ini. Jika ada yang membayar, uang itu seluruhnya akan digunakan untuk pasraman.

Meski gratis, bukan berarti ia mengajar sembarangan dan seenaknya saja. ”Ini bagian dari niat saya ngayah (mengabdi) kepada pelestarian seni. Anak-anak serius belajar saja, itu sudah cukup melegakan,” katanya.

Upaya ini terbukti dengan sejumlah penghargaan yang diperoleh anak-anak pasraman dari beragam perlombaan tari maupun karawitan. Tarian anak-anak pasraman yang mendapat penghargaan di antaranya tari legong, baris, dan topeng. Bahkan, tahun lalu, pasraman-nya dipilih
untuk mewakili Provinsi Bali dalam jambore pasraman di Solo, Jawa Tengah.

Kepiawaian Supartama membuat Pemerintah Kota Denpasar memberikan kepercayaan pada dirinya untuk merevitalisasi tari baris. Amanah itu pun dijalankan dengan baik. Apalagi, ia memang menguasai dengan baik tari pelegongan, baris, topeng, pedalangan, dan pegambuhan.

Keahliannya ternyata tidak berhenti pada tari dan memainkan alat musik tradisional, tetapi Supartama pun menguasai pembuatan topeng.

Sejak kecil

Supartama mengawali kecintaan seninya dari kehidupan keseharian yang hidup di lingkungan keluarganya. Sejak kecil, ia bercita-cita ingin jago berkesenian. Untuk mewujudkan cita-cita itu memang tidak mudah. Apalagi, ia besar dalam keluarga yang kurang mampu.

Ia cukup beruntung, memiliki teman yang baik. Orangtua temannya itu memanggil guru tari privat untuk anaknya, dan ia diminta menemani temannya kursus menari. Tentu saja ajakan ini tidak ditolaknya. Ia pun belajar dengan penuh kesungguhan.

Berkat kegigihannya dalam belajar tari itu pula, ia mendapat beasiswa untuk sekolah hingga bangku perguruan tinggi. Ia pun mendaftarkan diri ke Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Selain itu, untuk mengasah jiwa seninya, ia tidak lelah berguru ke sejumlah ahli seni dan ia belajar secara otodidak.

Semasa kuliah, sederet prestasi juga diboyongnya. Antara lain, ia terpilih sebagai duta koreografer muda pada 1997. Selain itu, ia pun pernah mewakili Indonesia ke Peru.

Sudah menjadi tradisi bagi seorang penari di Bali, mereka harus melewati sejumlah upacara adat terlebih dahulu sebelum diizinkan pentas dalam upacara keagamaan. Rentetan upacara ini bertujuan agar sang penari selamat dan lancar ketika menarikan sebuah tarian, khususnya di dalam upacara keagamaan.

”Saya tidak mau di usia muda sampai tua menjadi sia-sia. Ngayah kepada seni itu luar biasa. Maka, upaya untuk mengajari anak-anak menjadi hal utama. Ini sebagai bagian pelestarian dan regenerasi budaya,” ujarnya sambil tersenyum.

—————————————————————————
Anak Agung Ngurah Bagus Supartama 
♦ Lahir: Denpasar, 15 Mei 1978
♦ Pekerjaan: Pengajar Pendidikan Agama dan Seni  di Universitas Hindu Indonesia Denpasar.  Mata kuliah, Sastra Jawa Kuna, Seni Sakral, Sastra Lagu, Tari Petopengan, Tari Pegambuhan
♦ Istri: AA Sagung Oka Indra Parwati
♦ Anak:
– AA Sagung Istri Prabhaswari
– AA Ngurah Lanang Bhaskara
♦ Sekolah:
– SDN 20 Dauh Puri (1987)
– SMP PGRI 10 (1993)
– SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) Bali (1997)
– Gelar seni tari diperoleh dari Jurusan Penciptaan Seni Tari di STSI (ISI) Denpasar tahun 2001 dengan predikat ”cum laude”.
– Melanjutkan program magister (S-2) di Universitas Hindu Indonesia Denpasar pada Jurusan Ilmu Agama dan Kebudayaan (2013)
♦ Pengalaman:
– Lawatan ke  Kopenhagen, Denmark, dengan tim kesenian sekolah menengah karawitan Bali (1997)
– Duta koreografer muda delegasi Indonesia ke Peru (1997)
– Festival seni daerah di TMII, membawa tim kesenian STSI (ISI Denpasar-sekarang) sebagai juara umum (1999)
– Tim kesenian STSI ke Swiss dan Singapura  (2000)
– Tim Sanggar Bajra Sandhi ke Vietnam (2000)
Sumber: 
KOMPAS cetak | Rabu, 14 Januari 2015

[telah dibaca 1087 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *