Ikatan batin Bromo

Sejumlah warga berebut menangkap sesaji yang dilemparkan suku Tenggger ke kawah Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, pada puncak perayaan Yadnya Kasada, Minggu (6/9/2009). Yadnya Kasada merupakan ritual warga suku Tengger dengan melarung hasil bumi atau ternak ke kawah Bromo sebagai wujud penghormatan terhadap nenek moyang mereka.

Bromo dan mentari paginya itu adalah momentum yang menjadi alasan banyak wisatawan merasa punya ikatan batin dengan gunung yang diyakini oleh masyarakat Tengger sebagai tempat bersemayam Dewa Brahma itu. Mereka pun ingin datang dan datang lagi.

”Tiga bulan lalu saya ke sini. Kini, saya datang lagi dengan mengajak teman-teman. Sekalian melihat upacara adat Tengger, Yadnya Kasada,” ujar Jujun Junarya yang berasal dari Banten. Sebagai fotografer yang mengkhususkan diri pada lanskap dan budaya, Jujun menilai Bromo dan subetnis Tenggernya memberi banyak titik menarik sebagai obyek foto.

Ia teringat, tahun 2000 saat mengadakan pameran lanskap di Japan Foundation, Jakarta, sebuah foto Bromo pada malam hari saat Kasada dibeli oleh seorang warga negara India. Hal itu membuktikan bahwa keindahan Bromo diakui dan diketahui hingga ke mancanegara.

Ketagihan dengan Bromo juga dialami Rizki Dwi Putra, mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur. Ia sudah tiga kali datang ke Bromo, khusus untuk mengambil momen Yadnya Kasada. ”Kalau datang ke Bromo bersamaan upacara Kasada, kita mendapatkan menu lengkap, mulai dari pemandangan alam hingga ritual budaya,” ucapnya.

Hari itu Bromo menarik perhatian banyak orang. Bukan saja pemburu foto, warga dari bermacam keyakinan juga banyak yang datang untuk menyaksikan hari raya masyarakat Tengger, Yadnya Kasada. Kusaini (55), seorang warga Pusungmalang, Kecamatan Puspo, Pasuruan, sengaja datang ke Bromo setelah 13 tahun absen melihat Kasada.

”Saya terakhir ke sini tahun 2001. Setelah itu tidak pernah datang lagi. Kali ini, saya sengaja ikut anak-anak yang ingin menyaksikan larung sesaji di Bromo,” ujarnya. Menurut Kusaini, selama belasan tahun ini banyak yang berubah. Bromo dan penyelenggaraan Kasada lebih rapi dibandingkan dengan dulu. Untuk naik ke puncak dan menyaksikan kaldera Bromo, pengunjung terbantu oleh tangga semen dengan anak tangga sebanyak 240 buah.

Bagi warga Tengger, Yadnya Kasada menjadi bagian spiritual yang tidak bisa diabaikan. Mereka tak hanya datang melarung sesaji, tetapi juga tinggal dan bermalam merayakan hari raya itu secara meriah. Percik dan ledakan kembang api di udara pun berbaur dengan suara musik yang mengalun kencang dari pengeras suara.

Edi Darmono (24), penduduk Wonokerto, Kecamatan Sumber, Probolinggo, datang bersama 14 saudaranya. Mengendarai dua mobil bak terbuka, ia membawa beberapa pengeras suara (sound system) berkapasitas 30 ampere dan 20 ampere ditambah amplifier. Untuk menghidupkan perangkat itu, ia membawa sebuah generator set. Musik disko pun berdentum keras dari tempatnya berada, persis di luar tembok poten (pura) yang berada di tengah lautan pasir.

Guna menghalau dinginnya udara yang berada di bawah 10 derajat celsius, Edi membentangkan terpal yang kedua sisinya diikatkan kepada kendaraan yang dia bawa. Di bawah terpal itulah mereka memasak, makan, dan tidur selama pelaksanaan Yadnya Kasada. ”Empat tahun terakhir saya selalu membawa sound system. Kebetulan semua perangkat itu milik sendiri. Bagi kami, Kasada adalah hari raya sehingga patut dirayakan,” kata Edi.

 

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2014/09/07/134500327/Mentari.Pagi.Bromo.Pesona.Tengger
[telah dibaca 421 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *