Peradah Indonesia Minta Pemda Semarang Tegas

Peradah Semarang situs-candi-ngempon Tribun News

Peradah Indonesia menyayangkan tidak adanya kepedulian dari Pemerintah Daerah di Semarang terhadap kelestarian Candi Ngempon di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.

Hal ini dapat dilihat dari adanya tempat-tempat hiburan liar di kawasan Candi Ngempon yang membawa dampak negatif bagi masyarakat dan kelestarian kawasan candi.

Wayan Sudane, Ketua Umum Peradah Indonesia dalam rilisnya yang diterima Tribun Bali mengatakan semua warisan luhur budaya bangsa, harus dijaga dan dikembangkan untuk mengangkat nilai kawasan dan masyarakatnya baik sosial maupun ekonomi.

Pemerintah melalui Pemda setempat dapat mengoptimalkan kawasan menjadi eko wisata maupun desa wisata dengan mengangkat nilai-nilai luhur budaya setempat.

“Pendekatan pembangunan masyarakat berbasis budaya, perlu dilakukan pemda untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya disela-sela diskusi budaya dalam rangka 69 tahun Pancasila di Jakarta, Minggu(1/6/2014) lalu.

Untuk itu, pemda setempat dan lintas sektoral perlu bertindak tegas terhadap tempat-tempat hiburan liar yang dapat merusak kawasan, sekaligus merusak mental masyarakat.

Solusinya adalah mengembangkan kawasan menjadi desa wisata berbasis budaya dan ekonomi kreatif. “Pembangunan perlu dilakukan dengan pendekatan masyarakat, alam atau lingkungan, dan ekonomi kreatif,” tambahnya.

Selain itu, pemda juga dapat memanfaatkan program corporate social responsibility (CSR) dengan menggandeng sektor swasta yang ada di Semarang maupun Jawa Tengah untuk turut aktif mengembangkan kawasan Candi menjadi wilayah wisata berbasis budaya luhur bangsa.

Sebagaimana diketahui, tanpa adanya perhatian Pemerintah, kondisi situs Candi Ngempon yang berada di Lingkungan Ngempon, Bergas, Kabupaten Semarang saat ini menjadi salah satu lokasi prostitusi yang tergolong ramai.

Sejumlah kalangan khawatir jika tidak segera ditertibkan, lama kelamaan kawasan Candi Ngempon akan berubah menjadi lokalisasi. Sebab di lingkungan situs peninggalan kerajaan Hindu itu, tumbuh subur rumah karaoke dan tempat biliard liar.

Bahkan, di kawasan tersebut saat ini dikenal sebagai pangkalan kaum waria dan menjadi ajang mesum remaja yang sedang pacaran.

“Awalnya hanya satu karaoke saja, lalu bertambah banyak. Kalau malam suasanya ya ramai karena ada karaoke itu. Ada juga kelompok waria yang seringkali nongkrong pada malam hari di sini. Kami tidak tahu aktivitas mereka, setahu kami mereka hanya datang untuk berwisata. Warga sebenarnya terganggu, tetapi tidak bisa melarang karena itu kewenangannya pemerintah,” kata Hidayat (30), salah satu warga, Senin (1/7/2014) pagi.

Kondisi situs Candi Ngempon yang terdiri dari sejumlah candi dan petirtaan (pemandian) air hangat peninggalan kerajaan zaman Hindu tersebut terancam rusak karena adanya karaoke dan billiard membuat sejumlah kelompok pemerhati Cagar Budaya turun tangan.

Dua Kelompok pemerhati Cagar Budaya dari Paguyuban Pedulu Cagar Budaya ‘Ratu Sima’ (PPCBRS) Jateng dan Paguyuban Peduli Cagar Budaya dan Alam Semesta Jateng mendesak Pemkab Semarang melakukan tindakan penyelamatan situs Candi Ngempon.

“Kami sudah mendatangi Kantor Dinas P dan K untuk mendesak penyelamatan Candi Ngempon. Kami sudah lihat langsung di lokasi, dan kami mencermati di Ngempon sudah banyak pelanggaran. Sebab di sekitar petirtaan sudah berdiri sejumlah karaoke dan billiard yang jaraknya sangat dekat dengan situs Candi Ngempon tersebut. Juga jadi tempat nongkrong ‘mahluk jadi-jadian’ (waria). Lama kelamaan bisa jadi tempat prostitusi,” kata Ketua PPCBRS Jateng, Sutikno dihubungi via phone.

Aura mesum dilokasi Candi, kata Sutikno, juga dikeluhkan oleh organisasi keagamaan Hindu, lantaran mereka masih menggunakan candi tersebut untuk kegiatan keagamaan.

Dia berharap, dengan keluhan dari masyarakat serta umat Hindu tersebut, pemerintah serius melindungi tempat cagar sesuai peruntukannya. “Kalau itu candi ya harusnya jadi wisata religi dan pendidikan, jangan sampai nantinya menjadi wisata syahwat. Kami minta kondisi itu harus segera ditertibkan,” kata Sutikno.

 

Sumber:

http://bali.tribunnews.com/2014/06/03/peradahindonesia-minta-pemda-semarang-tegas
[telah dibaca 458 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *