Penghargaan Peradah

MH 1 HUT Peradah MEI

Dalam puncak rangkaian ulang tahun yang ke-30, Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah Indonesia) memberikan penghargaan kepada empat tokoh yang telah bekerja nyata bagi masyarakat. Apresiasi Peradah melalui Penghargaan ini dikategorikan menjadi empat yaitu pendidikan, kewirausahaan, lingkungan, dan budaya. Penghargaan diberikan dalam puncak perayaan 30 tahun Peradah Indonesia pada tanggal 15 Maret lalu di Jakarta.
Adapun penerima penghargaan tersebut adalah Made Kusuma Jaya untuk kategori Lingkungan.Anak kedua dari Pasangan Petani bernama  I Made Dapet dan Ni Ketut Sari di Tengah Pelosok Pulau Bali tepatnya di Dusun/Banjar Gunung Kangin, Desa Bangli, Baturiti Tabanan. Tahun 2005 masuk di  Fakultas Kedokteran, Jurusan Kesehatan Masyarakat (Kesmas) di Universitas Udayana. Lulus 2011 direkrut menjadi Field Facilitator Program Pemberdayaan Pemulung di sebuah NGO, lalu menjadi staff bidang Manajemen Sampah kurang lebih 2 tahun dikantor yang sama. Wara-wiri dari workshop 1 ke workshop yang lain dari nusantara sampai ke luar negeri terus membahas dan diskusi soal pemulung dan masalah sampah. Suami dari Ni Kadek Sinta Dewi ini masih sempat melanjutkan pekerjaan di Denpasar sampai akhir 2012, lalu mengundurkan diri karena lebih memilih untuk lebih awal kembali ke tanah kelahiran di desa.
Pertengahan 2013 (Juni) setelah semua uang dan tabungan habis, Made lalu mendirikan Bank namun bukan bank uang, melainkan Bank Sampah bernama “Asri Mandala”. Didukung oleh teman dan saudara yang mengerti akan niat tersebut, kegiatan dijalankan dari desa sendiri dan terus memperluas ke desa-desa lain. Kampanye di social media melalui Fanpage Central Bali Recycling, membuat kegiatan ini mendapat banyak apresiasi dari berbagai pihak karena dalam perjalananya kegiatan-kegiatan bank sampah banyak berkaitan dengan anak-anak.
Tahun 2014, Made memberanikan diri merambah bisnis jasa pengelolaan sampah untuk komersial. Akibat bisnis  “Tabungan Recycle” di Bank Sampah masih belum mengcover biaya untuk menjalankan roda kegiatannya. Karena kegiatan bank sampah 50% bisnis 50% kegiatan pendampingan dan edukasi sedangkan tidak ada sponsor/support finansial dari pihak luar. Melihat peluang di bisnis ini terbuka, maka kerjasama dimulai dari pengusaha wisata lokal sekitar desa.
Bisnis dengan pengusaha juga merupakan jalan untuk melakukan advokasi agar dapat mengajak pengusaha yang peduli untuk berpartisipasi membantu kegiatan-kegiatan sosial dan pendidikan terkait sampah di pedesaan. Sampai detik ini, semua kegiatan dikerjakan seorang diri. Sebagai Pendiri, Sebagai Direktur, Manajer dan Kuli Pemilah Sampahnya juga sekalian.

Penerima penghargaannya selanjutnya adalah sosok pemuda yang bergelut dibidang budaya, Dwitra J Ariana. Dwitra dinobatkan oleh Dewa Juri sebagai  penerima penghargaan untuk kategori Budaya. Dwitra merupakan sosok pemuda pembuat film, penulis dan pegiat teater yang lahir di Jeruk Mancingan, 1 Juli 1983. Berkesenian dimulai dengan berteater di Sanggar Cipta Budaya SLTP 1 Denpasar dan Teater Angin SMU 1 Denpasar. Ia menekuni dokumentasi budaya melalui film, dan grafis. Film-filmnya pernah terpilih sebagai Official Selection Ganesha Film Festival (Ganffest) 2008 Bandung, Surabaya Film Festival (S13FFEST) 2007 dan Festival Film Dokumenter (FFD) Jogjakarta 2006.
Untuk menyebarkan minatnya, Dwitra mendirikan Sanggar Siap Selem (ayam hitam) di Banjar Jeruk Mancingan, Susut – Bangli. Sanggar Siap Selem melaksanakan workshop dan diskusi seni dan budaya terutama seni dan budaya kontemporer. Pada tahun 2011, Sanggar Siap Selem memproduksi film dokumenter pluralisme dengan judul “Lampion-Lampion”. Film tersebut berhasil meraih beberapa penghargaan, antara lain: Film Terbaik I Festival Film Dokumenter Bali 2011, Film Terbaik I Festival Film Kearifan Budaya Lokal Kemenbudpar Jakarta 2011, Best Director dan Best Documentary di Documentary Days Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Jakarta 2011 dan di ajang supremasi tertinggi penghargaan film di Indonesia, Festival Film Indonesia (FFI) 2011, film tersebut terpilih sebagai 5 nominasi penerima Piala Citra.
Dwitra mengenyam berbagai pendidikan, kendati tak semuanya ia selesaikan. Pernah tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Teknik Arsitektur Universitas Udayana dan Graphic Design WEC, hanya yang terakhir berhasil ditamatkannya. Kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Udayana sedang berjuang skripsi, namun sudah terdaftar lagi di Institut Seni Indonesia Denpasar jurusan Desain Komunikasi Visual.

Untuk bidang pendidikan, penghargaan Peradah diterima oleh Putu Pande Setiawan. Pande melakukan kerja sosial melalui Komunitas Anak Alam. Pande menyelesaikan S1 Teknik Industri dari Sekolah Tinggi Teknologi Telkom – Bandung, kemudian menyelesaikan S2 di Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Berkesempatan melakukan pertukaran mahasiswa ke University of Victoria,British Columbia – Canada. Pernah menjadi kandidat beasiswa Ph.D in tourism oleh World Tourism Organization di Hong Kong Polytechnique Institut.Pernah bekerja sebagai Staf Field Monitor – Program Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN-WFP) dalam recovery gempa di Yogyakarta.
Pande bercita-cita melihat anak-anak miskin di seluruh Bali bisa mengenyam pendidikan. Tahun 2009, ia mendirikan Komunitas Anak Alam sebuah komunitas berbasis sukarela. Misi awalnya adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak dari kampung-kampung terpencil Bali agar mendapatkan kehidupan yang lebih layak, pengalaman hidup yang lebih baik, dan akses pengetahuan.
Mengawali langkah dan program Komunitas Anak Alam, Pande pergi di sekitar desa tempat tinggalnya untuk mencari anak-anak putus sekolah kerena kemiskinan. Pande mulai melakukan pendekatan dengan masyarakat di Desa Blandingan dengan cara berbaur dengan kehidupan keseharian mereka. Meski ia harus menjadi dekil untuk mendekati mereka yang phobia dengan pendatang.Upaya untuk melaksanakan komitmen mengabdikan diri untuk anak-anak miskin Bali melalui pendidikan bukan tanpa kendala. Banyak orang yang tidak suka, bahkan ia sempat dianggap gila untuk memulai program di Belandingan.
Pande terus bekomitmen bekerja untuk pendidikan. Ia sadari, di Bali pendidikan tidak begitu dianggap, sebaliknya pariwisata seolah mengalahkan sektor lainnya. Bekerja sosial merupakan hasrat terbesarnya. Memilih untuk mengabdikan diri dan pengetahuannya untuk anak-anak yang tak memiliki kesempatan dan peri kehidupan yang layak ini, daripada menerima tawaran kerja di perusahaan-perusahaan besar. Inilah kerja nyata, yang sering dilupakan dan dianggap remeh orang yang sudah mapan.

Penghargaan Peradah dibidang kewirausahaan adalahPutu Putrayasa.Diusianya yang muda,  ia memiliki segudang prestasi yang membanggakan. Lahir di Sumbawa, 17 Desember 1976, tak pernah ada yang menyangka, bahwa berada dalam kondisi sebagai seorang anak dari petani miskin dan seringkali kesulitan untuk meneruskan sekolah, mampu membawanya menjadi sosok yang sukses. Berbagai bidang bisnis pun pernah ia geluti, mulai dari laundry, bimbingan belajar jarak jauh, les privat, bisnis kayu hingga saat berusia 22 tahun, Putu sudah bisa menghasilkan omzet miliaran dari usaha toko komputernya.
Diusia 26 tahun, Putu mendirikan akademi yaitu Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK AKMI), di Baturaja, Sumatera Selatan. Kini ia juga mengembangkan STIE Bank, Kampus pencetak pengusaha di Yogyakarta. Putu juga merupakan praktisi Neuro Linguistic Programming (NLP), menulis buku dengan harapan setiap orang yang membacanya akan paham betul inti dari sebuah kesuksesan. Buku pertamanya Kaya dan Bahagia Modal Ngobrol, disusul kemudian dengan buku Desain Ulang Hidup Anda diterbitkan oleh Gramedia Group.
Tak cukup hanya menjadi seorang wirausahawan, kini Putu Putrayasa mulai bergerak mewujudkan pengabdiannya bagi masyarakat.  Ia mendirikan komunitas pengusaha pembelajar melalui Kos Hebat, sebagai Kos Hebat Pencetak Pengusaha. Kos Hebat ini adalah bentuk bimbingan dan pengarahan kepada para pesertanya yang ditempa kurang lebih dua bulan untuk menjadi pengusaha berkarakter, tidak hanya nekat dengan otak kanan, tetapi juga pengusaha yang diimbangi dengan logika dan rasio otak kiri. Dari Kos Hebat, Putu ingin melahirkan 1000 Orang Pengusaha sekaligus Penulis, Trainer dan Coach, yang akan diajaknya melahirkan Sejuta Pengusaha.

 

*Berita ini sudah dicetak di Media Hindu edisi Mei 2014.
[telah dibaca 390 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *