Trie Utami: Doa Pertiwi

tri utami peradah hindu

”Ketika banyak orang yang sibuk membuat kotakkotak. Ketika banyak orang sibuk menggunting-gunting persatuan. Ketika banyak orang sibuk mengguntikgunting perbedaan, kami para musisi dan seniman sibuk untuk membuat suasana damai. Sibuk membuat keharmonisan dan menghargai perbedaan”.

Itulah penggalan kalimat yang diucapkan Tri Utami, penyanyi jazz kondang diselasela konser Nyanyian Dharma bertajuk Doa Pertiwi Nusantara Harmoni di Candi Brahu, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Kamis (20/3) malam. Sejenak suasana di pelataran candi menjadi hening. Penonton yang hadir serius mendegarkan kalimat demi kalimat Tri Utami yang membakar semangat persatuan. Di tengah pagelaran dengan kemasan eksotis dan bernuansa religius itu, Tri Utami juga mengajak penonton untuk melebur perbedaan dan memahami keberagaman.

”Nyanyian Dharma adalah musisi dari berbagai daerah. Ada Bali, Jawa Tengah, Sunda dan Kalimantan. Perbedaan itu bisa membuat kita berdiri sama tinggi, bernyanyi sama lantang,” teriak Tri Utami. Konser Doa Pertiwi Nusantara Harmoni di Candi Brahu ini adalah konser kedua Nyanyian Dharma di Mojokerto. Sehari sebelumnya, konser yang sama dengan konsep sederhana juga digelar di Petirtan Jolotundo, Trawas. Band multi etnis dan agama yang dimotori gitaris GIGI Band Dewa Budjana itu menyajikan penampilan yang sempurna di Candi Brahu.

kami para musisi dan seniman sibuk untuk membuat suasana damai. Sibuk membuat keharmonisan dan menghargai perbedaan

Meski diguyur hujan mulai pertengahan konser, penonton tetap saja asyik menikmati alunan musik bernuansa etnis religius yang dibawakan Budjana dan grupnya. Penonton seakan dibius dengan indahnya tata lampu yang memenuhi pelataran dan badan candi yang menjadi panggung terbuka. Alunan lagu Kidung Nusantara sebagai lagu pembuka juga dibawakan apik serta disambut hangat penonton. Penampilan Nyanyian Dharma malam itu jauh lebih sempurna dibanding konser sebelumnya di Petirtan Jolotundo, Trawas.

Selain tata panggung, pencahayaan dan sound, konsep yang disuguhkan juga terbilang mewah untuk sekelas konser tak berbayar dengan menghadirkan musisi-musisi ternama. Terlebih, penampilan Dewa Budjana dan Tri Utami yang sudah banyak dinantikan khalayak. Malam itu, Nyanyian Dharma kembali melantunkan sepuluh tembang yang digarap bersama. Tembang berjudul Kidung Nusantara, Doa Pertiwi, Saraswati, Gaka, Matramku, Gangga Giri, The Fifht, Lotus, Tatwamasi dan Karma itu tak sedikitpun luput dari telinga penonton.

Apalagi grup band ini juga membawakan lagu-lagu itu dengan sempurna kendati huja terus mengguyur lamban. Rasa puas terpancar dari wajah para musisi Nyanyian Dharma. Mereka merasa berhasil menyajikan konser yang bisa mencuri perhatian penonton. Di akhir konser, Tri Utami mengajak beberapa seniman lokal dan beberapa seniman dari luar kota untuk bergabung di atas badan candi. Beberapa seniman dari luar daerah yang bergabung diantaranya adalah perupa kondang asal Yogyakarya Putu Sutawijaya.

Doa bersamapun dilakukan dan berharap agar Tuhan menjaga negeri ini. ”Tuhan, maaf hanya ini yang bisa kami berikan. Tetaplah menjaga bumi pertiwi kami,” ujar Tri Utami. Sementara Budjana sendiri mengaku puas dengan pertunjukan yang tanpa didanai sponsor dan hanya mengandalkan patungan para seniman itu.

”Ada banyak pesan yang kami sampaikan. Salah satunya adalah agar kita bisa memaknai keberagaman adalah sesuatu yang harmonis. Seniman suudah memahami ini dan agar tercipta kerukunan di negeri ini,” kata Budjana.

sumber: SINDO
[telah dibaca 713 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *