Pangguni Uttirem, Ungkap Nazar dengan Menusuk Lidah

Umat Hindu di Medan

Umat Hindu India Tamil di Kota Banda Aceh melaksanakan ritual Pangguni Uttirem Tiruwila. Ini adalah ritual lepas nazar yang dilakukan setiap bulan pangguni di tiap tahunnya. Sejak Minggu pagi, warga India yang berdomisili di kawasan Gampong (Desa) Keudah, Banda Aceh mempersiapkan ritual ini

Pembacaan doa oleh Pandita Shiwa Shri Jayabarthy Gurukel, sekira pukul 10.00 Wib, menjadi tanda dimulainya Pangguni Uttiram, yakni hari peringatan perkawinan Desa Murrugen. Pandita asal Kota Medan ini menyebutkan, kegiatan ini merupakan bagian dari adat istiadat sekaligus kepercayaan bagi umat Hindu Tamil. 

“Ini akan dilakukan oleh umat Hindu yang sudah bernazar sebelumnya atas kebaikan yang didapat dalam hidup mereka, dan setiap warga melaksanakan nazarnya dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang sudah diniatkan sebelumnya,” ujar Pandita berperawakan kurus tinggi ini. Menurut Shri Jayabarthy, selain berdoa, ritual Nazar turut terangkai dalam upacara peringatan Pangguni Uttiram. 

Mereka yang memiliki Nazar (janji) akan sesuatu, wajib melakukan aksi sesuai dengan apa yang sudah diniatkan, seperti menusuk bagian tubuh dengan benda tajam seperti lidah, punggung, telinga, dan hidung. Selain itu, ada juga yang memakan bara api, atau bahkan ada pula yang menabalkan dirinya sebagai burung merak di mana sekeliling tubuh bagian atas ditusuk sejumlah batang besi yang membentuk bulu-bulu ekor burung merak. Aksi ini dimaksudkan agar pemilik Nazar kembali suci dan tidak memiliki utang atas janjinya tersebut. “Kegiatan ini memang biasa kita lakukan di bulan 3 atau bulan 4, menurut penanggalan tamil, sebagai kepercayaan dan adat istiadat di bulan Pangguni, upacara yang dilakukan untuk memperingati hari perkawinan Dewa Murrugen,” kata Shri Jayabarthy. 

Usai berdoa di kuil, umat Hindu Tamil ini kemudian mengarak peserta ritual nazar ke tepi sungai, selanjutnya dilaksanakan ritual mandi untuk mensucikan diri sebelum peserta Nazar ditusuk bagian tubuhnya. “Mereka yang membayar nazarnya wajib berpuasa selama 3 hari, artinya tidak makan makanan yang amis, dan menginap di kuil. Sehingga, saat disucikan, tubuhnya tidak akan merasa sakit ditusuk benda tajam,” ujar Pandita Shri.

Ritual Pangguni Uttirem Tiruwila ini juga bertujuan untuk memohon keberkatan dari yang maha kuasa dan menolak baladan kejahatan. “Jika ingin mengikuti ritual ini, seseorang haruslah dalam kondisi bersih, baik bersih raga maupun bersih jiwa dan pikiran, serta ikhlas,” ujar Raju, seorang pengikut ritual. 

Meski menyajikan pemandangan yang menyeramkan, ritual Pangguni Uttirem Tiruwila ini juga menarik perhatian warga termasuk anak-anak. Tidak hanya warga setempat tapi juga wisatawan yang tengah menghabiskan libur akhir pekan yang panjang di Banda Aceh, juga menikmati aksi ritual ini. 

“Saya baru pertama kali menyaksikan kegiatan ini, dan sungguh menakjubkan di Kota yang dikenal dengan nama serambi mekkah ini, ternyata kehidupan kerukunan beragamanya sangat luar biasa, dan harmonisasi disini sangat kuat,” jelas Adrian, seorang wisatawan asal Kota Palembang. 

Menurut Adrian, dia sungguh tidak menyangka mendapat pemandangan aktivitas beragama yang berbeda dalam dua hari, di Banda Aceh, yakni perayaan Paskah dan Ritual Pangguni Uttirem.

“Saya sengaja memang ingin berlibur menikmati suasana di Kota Banda Aceh, dan ternyata mendapat dua pemandangan yang menyenangkan sekali,” kata Adrian. 

Tidak banyak komunitas Hindu India Tamil di Kota Banda Aceh. Pasca musibah gempa dan tsunami, komunitas ini hanya berjumlah 45 orang saja, dibanding sebelumnya mencapai 100 jiwa. 

 

Sumber :

http://regional.kompas.com/read/2014/04/21/0858386/Pangguni.Uttirem.Ungkap.Nazar.dengan.Menusuk.Lidah
[telah dibaca 413 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *