Prabu Darmayasa: Olah Sloka Bhagawadgita

prabu dharmayasa

Menyentuhkan upacara tiap hari kepada umat begitulah yang mendasari keinginan Rasa Acharya Praburaja Darmayasa. Upacara tidak hanya dalam bentuk persembahan fisik melainkan perilaku keseharian yang berdasarkan dharma atau kebajikan. Prabhu Darmayasa menyentuhkan ajaran Weda tiap harinya dengan Bhagawad-Gita, sentuhan tersebut dilakukan dengan benar. Benar dalam artian semua berdasarkan atas sastra atau Weda bukan kebenaran cara diri sendiri atau golongan.

“Sesungguhnya Weda tidak seluas pikiran kita, melainkan sangat luas bahkan lebih luas dari semesta ini. Kebenaran Weda tidak pernah dimakan zaman, karena Weda sendiri kekal adanya,” kata Prabhu Darmayasa (17/2).

Beberapa waktu lalu, Prabhu Darmayasa meluncurkan album Bhagawad Gita, menurutnya album ini membantu mengembangkan atau memunculkan keinginan untuk mencintai dan mengamalkan dharma sejak dini. Gita adalah nyanyian, mereka yang melantunkan nyanyian ini dengan benar, merupakan mereka yang selalu diliputi oleh kebahagiaan. Dalam album Puja Bhagawad Gita, sloka-sloka Bhagawad Gita dipadukan dengan syair dan irama ‘pop’ agar lebih diminati oleh kalangan generasi muda.

Sebagaimana diketahui Bhagawad Gita kitab yang universal, mahakarya di zamannya yang merupakan intisari dari ajaran-ajaran suci Weda. Sesungguhnya Weda tidak hanya mengajarkan seseorang untuk mencari dan menemukan Tuhan, melainkan Weda mengajarkan bagaimana manusia itu menjalankan hidupnya di muka bumi ini. Semua hal ada dalam Weda yang sekarang diintisarikan dalam Bhagawad Gita. Seperti yang sudah ditulis di paragraf awal, yadnya tidak hanya dalam bentuk upacara fisik semata. Melantunkan Bhagawad Gita pun dikatakan menjalankan yadnya, tidak hanya itu menyebar ajaran suci agama juga termasuk melaksanakan yadnya.

Weda memuat berbagai ajaran dalam kehidupan memiliki berbagai macam tata cara pembelajaran karakter. Ajaran Weda sangat sempurna, contoh dari hal-hal kecil misalkan bagaimana cara makan, minum, hingga cara memuja dan melakoni hidup. Generasi muda sekarang sudah sangat jeli, teliti, cerdas, bahkan kritis, dalam menelaah tradisi dan agama yang diwarisi mereka.

Sehingga untuk itu, kata dia menjawab kehausan mereka akan ajaran agama tentunya harus melalui pedidikan karakter yang kuat. Pendidikan karakter yang kuat itu justru datangnya dari berbagai ajaran Weda tersebut. Mentradisikan membaca Weda di kalangan masyarakat memang agak susah, tetapi pelan-pelan masyarakat intelek mulai sadar bahwa Weda adalah penerang sebab upacara fisik tidak selamanya kekal, selalu ada perubahan menurut takarannya masing-masing.

“Uttamaning Uttama alah dening Kanisthaning Nistha, contohnya ketika Prabhu Yudistira mengadakan upacara besar-besaran terhadap leluhurnya, upacara tersebut kalah dengan yadnya seorang pendeta yang memberikan sesuap nasi kepada seorang yang sedang kelaparan,” tuturnya mengutip salah satu kisah mahabrata yang penuh filosofis dan relevan dengan kekinian.

Menurut Prabhu Darmayasa, makna kisah tersebut merupakan persembahan seseorang di mata Tuhan tidak diukur dari kuantitas melainkan kualitas, artinya kualitas keikhlasan dalam diri seseorang tersebut. Banyak cara dan jalan menuju Tuhan, salah satunya dengan menyebarkan ajaran Weda melalui intisari Bhagawad Gita yang dinyanyikan. Bahkan, rencananya Bhagawad Gita dan prinsip pendidikan ajaran Weda sebagai pembentuk karakter manusia akan banyak dibicarakan pada World Hindu Wisdom (WHWM) Meet II April 2014 mendatang yang merupakan rangkaian kegiatan Parisada Hindu Dunia (World Hindu Parisad). Ari Dwijayhanthi
#http://posbali.com
[telah dibaca 1999 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *