Strategi Politisi Hindu Pada Pemilu 2014

Senayan

Aktivitas politik seorang Politisi dalam hal ini adalah politisi Hindu memiliki peluang yang sama dengan politisi lainnya yang berkompetisi menuju kursi senayan 2014. Berangkat dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Lembaga Kajian dan Penelitian Peradah yang menekankan pada Personal Branding Politisi Hindu Pada Pemilu Legislatif 2014 maka dapat dikembangkan dalam pembahasan analisis yang terkait dengan Strategi dan Peluang Politisi Hindu Pada Pemilu 2014. Ada beberapa strategi politik yang yang dapat dijadikan referensi oleh para politisi Hindu ketika akan meraih suara dan simpati publik untuk mempercayakan suaranya kepada para calon wakil rakyat (politisi Hindu) tersebut.

Pemanfaatan Media Massa dan New Media

Berbicara mengenai kegiatan berpolitik, maka tidak bisa dilepaskan dari penggunaan Media (media main stream dan media social). Ketika kita mengaitkan antara dunia politik dengan pembentukan opini publik/ persepsi publik maka hasil dari proses politik dapat disampaikan kepada publik dan media sebagai sarananya. Media memiliki peranan sangat penting dalam membentuk dan mempengaruhi (memperkuat atau melemahkan) opini public/persepsi masyarakat terhadap posisi politik politisi tertentu, posisi ini termasuk dalam menjalin hubungan dengan media, seperti politisi lainnya, partai politik dan masyarakat umum.

Iklan-iklan politik peserta Pemilu banyak bermunculan menjajakan platform-nya dan slogan sosialisasinya. Program kerja, visi dan misi yang dimiliki oleh seorang politisi (calon wakil rakyat), akan lebih mudah dikomunikasikan melalui media massa dan new media. Pertanyaannya, dalam konteks komunikasi politik, bagaimana media dapat membentuk dan mempengaruhi opini dan persepsi publik, sehingga secara mayoritas publik menerima semua keputusan-keputusan politik (dalam hal ini Pemilu), yang menyebabkan publik memiliki keyakinan untuk menetapkan pilihannya. Perlu diingat bahwa besar kecilnya keyakinan publik terhadap opini politiknya sangat ditentukan oleh bagaimana kualitas politisi tersebut dimata publik dan kemampuannya mengelola isu (manajemen isu) secara efektif dan efesien dan mengkomunikasinya kepada media.

Lemahnya pemanfaatan media massa dan new media harus menjadi catatan penting bagi para politisi Hindu jika ingin menjangkau seluruh lapisan masyarakat didaerah pemilihannya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa penggunaan media massa dan media baru (new media) dengan tepat akan sangat membantu proses sosialisasi, koordinasi serta kemudahan memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pembentukan opini/ persepsi publik dan citra politik politisi Hindu akan lebih mudah dibentuk ketika semua informasi yang menjadi kebutuhan masyarakat terpenuhi, dan disinilah media akan memainkan perannya.

Pada kenyataanya, dominasi kampanye politik secara langsung justru menjadi pilihan yang dianggap tepat oleh para politisi Hindu selama ini, walaupun aktifitas politik ini memiliki banyak kekurangan, seperti misalnya jangkauan kekuasaan politik yang sangat sempit dan penyampaian pesan-pesan politik yang terbatas. Namun kekuatan dari kampanye langsung adalah akan lebih mudah membangun kesadaran politik para konstituen secara afektif dan kognitif diharapkan akan adanya perubahan sikap dan perilaku (behavioral).

Baliho, banner, flayer, brosur, spanduk adalah jenis media yang masih menjadi pilihan favorit untuk para politisi Hindu. Sangat jarang sekali para politisi Hindu membangun kerjasama yang baik kepada media-media daerah/ lokal dan nasional untuk mengkomunikasikan segala informasi politik yang dibutuhkan oleh masyarakat. Begitu juga dengan pemanfaatan media baru (sosial media, youtube, website, blog, dll) yang masih sangat lemah pengelolaannya oleh para politisi Hindu jika mengingat dari data KPU bahwa 20-30% data pemilih pada pemilu 2014 adalam pemilih pemula yaitu pemilih yang baru pertama kali terlibat atau berpartisipasi dalam pesta demokrasi, dimana para pemilih pemula ini adalah para remaja yang sangat mendominasi wilayah sosial media. Sehingga jelas sekali jika ingin menguasai dunia maka kuasailah medianya.

Dominasi Indentitas Budaya dan Agama

Pengelolaan pesan melalui isu-isu kedaerahan dikhawatirkan akan memunculkan sebuah fanatisme kesukuan yang berlebihan. Ini akan menjadi sebuah pendidikan politik yang tidak sehat bagi para konstituen. Konsep nasionalisme yang kini mulai dirindukan oleh rakyat Indonesia akan mentah oleh simbol-simbol politik yang diusung oleh para politisi Hindu yang masih mengusung Etnis Bali dan isu-isu agama ketika melakukan kunjungan sosialisasi ke kantong massa. Ini akan membuat membangun sebuah karakteristik yang kuat di benak masyarakat (Top of Mind), sementara karakteristik nasionalis  tersebut sangat dibutuhkan dalam proses pembentukan citra politik. Kembali pada penggunaaan media yang masih bersifat kedaerah dan memiliki akses yang masih sangat terbatas. Pemanfaatan media yang masih terbatas akan mengakibatkan ketidak efektifan penyampaian pesan politik kepada para konstituen/ publik.

Pengelolaan citra politik dan pembangunan karakter yang menekankan pada identitas budaya dan agama masih menjadi pilihan yang “dianggap” tepat oleh para politisi Hindu. Jika dipahami bahwa citra politik tidak selalu mencerminkan realitas objektif namun pengemasan pesan politik yang terlalu subjektif pun akan menjadi informasi yang tidak perlu diingat dalam benak konstituen. Sebuah citra dan karakter politik dapat diciptakan, dibangun dan diperkuat. Citra politik juga dapat melemah, luntur dan hilang dalam sistem kognitif masyarakat, sehingga dibutuhkan sebuah pengemasan yang tepat dalam sistem konstruksi manajemen politik para politisi Hindu sehingga tidak terkesan mengeksploitasi secara berlebihan identitas budaya dan identitas agama dalam proses kampanye yang dilakukannya.

Sehingga sangat dibutuhkan pemahaman pluralisme yang kuat dalam pribadi politisi Hindu, dimana hal ini akan melebarkan porsi kue yang akan didapatkan oleh para politisi Hindu. Jika dapil (daerah pemilihan) para politisi Hindu adalah daerah Bali yang mayoritas Umat Hindu, akan berbeda hasilnya, namun akan menjadi lebih sulit jika daerah pemilihan yang dimiliki oleh para politisi berada di luar dari pulau Bali yang notabene umat Hindu dan etnis bali bukan sebagai basis massa mayoritas.

Dengan demikian, ketika politisi Hindu sudah berani bermain dalam kancah politik nasional, maka akan lebih baik lagi jika para Politisi Hindu tersebut mengusung nilai-nilai pluralisme dalam proses pembentukan citra politiknya, tidak lagi menguatkan pada identitas budaya Bali dan identitas agama yang terlalu berlebihan.

Originalitas Karakter dalam Strategi Kampanye Politik

Pada fase terakhir adalah fase personal branding yang menekankan pada pembentukan originalitas karakter dalam strategi politik yang ditawarkan oleh para politisi Hindu. Yang tentu saja akan membentuk karakter kuat dalam kemasan citra politik para politisi Hindu dalam benak masyarakat dalam hal ini adalah konstituen. Konstituen akan sangat mudah mengingat siapa politisi yang akan dipilihnya dalam pemilu legislatif 2014 karena branding sang politisi sudah sangat mudah untuk diingat dalam benak masyarakat.

Dengan demikian, buatlah originalitas karakter yang harus dibentuk oleh para politisi Hindu. Terkait dengan originalitas karakter yang dimiliki oleh para politisi kita dapat belajar dari Joko Widodo (Jokowi) yang sampai saat ini masih menjadi media darling untuk segala aktivitas politiknya dengan menguatkan karakter “kesederhanaan” dalam konsep kerja “blusukan” yang kini sangat familiar dalam benak masyarakat. Hal tersebut dapat dilakukan oleh seluruh politisi Hindu di Indonesia, dimana dalam proses aktivitas politik yang dilakukannya, sepatutnya adalah pembentukan karakter yang bersifat original sehingga akan sangat mudah menyentuh hati konstituen serta melekat manis dalam benak masyarakat.

Sebagai sebuah aktifitas politik yang mapan dan matang, dibutuhkannya sebuah konsep yang kuat dalam membangun citra politik serta originalitas karakter, yang tentu saja tidak dapat dikemas secara spontan seperti yang lazim dilakukan oleh para politisi Hindu. Lazimnya, para politisi Hindu yang sudah ada saat ini lebih banyak melakukan aktivitas politiknya tidak berangkat dari sebuah strategi yang matang dan terorganisir, sehingga pada akhirnya masyarakat akan cenderung bosan dan jenuh dengan metode kampanye yang hanya “mebanjar, ngayah, dharma wacana” yang dilakukan secara tiba-tiba dan sangat sering dilakukan ketika musim kampanye tiba.

Hal tersebut tentu saja akan menjadi kondisi yang sangat mengkhawatirkan bagi para politisi Hindu karena lemahnya kepercayaan konstituen kepada para politisi Hindu akan sangat berpengaruh para perolehan suara ketika Pemilu 2014 nanti. Sudah saatnya para politisi Hindu membangun sebuah karya yang cerdas dan original dalam kemasan strategi politik yang tetap sasaran dalam targeting yang tepat, segmentasi yang jelas serta positioning yang diharapkan.

Strategi dan Peluang Politisi Hindu

Sumber: Hasil Analisis Penelitian LKPP (2013)

Lembaga Kajian dan Penelitian Peradah oleh: NGAK Kurniasari, S.IP., M.Si.
Ketua Bidang Komunikasi Publik LKPP

Artikel ini telah di muat di Media Hindu Edisi Maret 2014
[telah dibaca 534 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *