Personal Branding dalam Komunikasi Politik

Parpol Pemilu 2014

Jika dilihat dari jumlah partai yang akan berkompetisi pada pesta demokratis legislatif  ditahun 2014, dan jumlah politisi yang terlibat pada pesta demokratis tersebut pun sangat banyak. Untuk itu, personal branding menjadi sangat perlu dimiliki dan dipersiapkan serta dibentuk sedini mungkin oleh setiap politisi Hindu yang akan menuju Senayan. Seperti sebuah investasi mulia yang harus dimulai dari hal yang kecil, maka Personal Branding pun adalah sebuah asset yang harus diciptakan dalam proses dan strategi yang tepat.

Dari pengkajian dan penelitian LKPP, tidak semua politisi khususnya politisi Hindu memiliki personal branding yang baik dan positif. Personal branding yang terpancar dari diri seorang politisi, bisa menjadi persepsi yang positif atau negatif pada benak masyarakat, yang kesemuanya sangat tergantung bagaimana para politisi tersebut menampilkan dan mengemas dirinya pada kancah perpolitikan. “Kebanyakan dari politisi tidak begitu paham bagaimana cara membentuk personal branding mereka. Satu hal yang harus dipahami bahwa sebagian besar politisi yang sukses pasti memiliki personal branding yang bagus,” papar NGAK Kurniasari Koordinator Komunikasi Publik LKPP.

Untuk memperoleh personal branding yang baik pertama-tama yang dibutuhkan adalah “produk” yang baik. Produk di sini dapat berupa keahlian, attitude, penampilan, cara bicara dan tentu saja yang tidak kalah penting adalah reputasi. Setelah itu, diperlukan cara mengkomunikasikan reputasi atau produk tersebut. Dalam konteks komunikasi membangun reputasi serta pengemasan sebuah “produk” dapat dilakukan seperti menulis artikel di beberapa media massa, menjadi pembicara, mengajar, terlibat dalam organisasi profesi, membangun komunitas, terlibat dalam aktivitas sosial, memiliki online networking atau blog dan sebagainya.

Pada perspektif yang berbeda, pemahaman dan penekanan personal branding adalah bagaimana cara para politisi tersebut mampu “memasarkan diri sendiri”. Dalam membangun branding, tentu tidak lepas dari citra politik (political brand) yang berkaitan dengan sosialisasi politik yang dibangun melalui pembelajaran langsung dari pengalaman empirik. Membangun citra politik dan sampai dimasyarakat sesuai dengan apa yang diharapkan oleh seorang politisi bukanlah hal yang mudah dan dapat cepat dicapai. Untuk itu, ada hal yang harus dilakukan terus-menerus oleh seorang politisi yaitu komunikasi politik (political communications).

Komunikasai politik disini dilihat sebagai usaha terus menerus yang dilakukan oleh seorang politisi dalam melakukan komunikasi dialogis dengan masyarakat. NGAK Kurniasari yang akrab dipanggil Yuke menjelaskan bahwa komunikasi politik tidak hanya terjadi sewaktu periode kampanye politik, melainkan melekat juga pada pemberitaan dan publikasi atas apa saja yang dilakukan oleh seorang politisi yang bersangkutan. “Tujuan dari komunikasi politik adalah menciptakan kesamaan pemahaman politik (misalnya, pesan, permasalahan, isu, kebijakan politik) antara seorang politisi dan masyarakat luas,” jelasnya sambil memaparkan hasil kajian LKPP akhir Desember lalu.

Saat ini, politisi Hindu di Senayan mencapai 11 orang DPR RI dan 4 orang DPD RI. Tentu harapan kita akan semakin banyak wakil-wakil rakyat yang dapat menyuarakan kepentingan umat Hindu secara nasional dalam kehidupan politik dan negara. Menurut Gede Narayana Ketua LKPP, pada pemilu 2014 calon-calon legislatif masih menyimpan harapan untuk meraih dukungan masyarakat khususnya basis-basis politik umat Hindu. “Disini perlu penekanan dan kerja keras para caleg Hindu untuk meraih dukungan umat Hindu sebagai basis konstituen,” jelas Narayana.
[telah dibaca 751 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *