Hasil Kajian dan Penelitian: Strategi Personal Branding Politisi Hindu

Pemilu Hindu

Hasil penelitian dan kajian LKPP menekankan pada tiga hal yaitu aktivitas politik, komunikasi politik, serta citra politik politisi Hindu. Ketiga hal tersebut dalam politik adalah sebuah proses maka yang menjadi bagian dari aktivitas, komunikasi politik sampai pembentukan citra politik pun adalah sebuah proses yang akan terus berkembang seiring dengan kepentingan-kepentingan politik yang terlibat.

1)      Aktivitas Politik Politisi Hindu

Jika dikaitkan dengan kegiatan kampanye yang dilakukan oleh para politisi Hindu, tentu saja tidak akan bisa lepas dari aktivitas politik yang dilakukan oleh para politisi khususnya politisi Hindu. Adapun hasil penelitian yang terkait dengan aktivitas politik politisi Hindu pada penelitian ini lebih bersifat spontanitas atau tidak terencana. Beberapa aktivitas seperti kunjungan, rekrutmen tim sukses, pemetaan wilayah Dapil (Daerah Pemilihan) lebih banyak dilakukan secara spontan tanpa koordinasi yang dibuat secara strategis dan sistematis.

Tidak banyak kreativitas politik sebagai bagian dari aktivitas politik yang dilakukan oleh para politisi Hindu. Banyak hal yang dilakukan oleh para politisi Hindu yang sifatnya meneruskan sebuah tradisi yang lazim dilakukan tanpa adanya originalitas aksi yang dilakukan. Banyak cara dan strategi yang dilakukan oleh para politisi Hindu untuk membangun loyalitas para konstituen. Hal sederhanya yang selalu dibangun dan dilakukan secara continue adalah dengan cara persuasif, dalam hal ini adalah pendekatan emosional. Ada dua klasifikasi besar yang dilakukan oleh para politisi Hindu yaitu; pendekatan secara langsung maupun pendekatan tidak langsung.

Pendekatan secara langsung yang lebih bersifat afektif dan konatif dapat dilihat dari pendekatan budaya yang dilakukan oleh para politisi Hindu. Pendekatan agamais justru lebih tidak menjadi prioritas utama untuk dilakukan. Tampaknya pendekatan budaya atau etnisitas  yang dilanjutkan dengan latar belakang persamaan personal lebih mudah untuk dilakukan. Lazimnya para politisi Hindu ini membangun pendekatan melalui aktivitas-aktivitas budaya yang biasanya dikaitkan dengan aktivitas agama.

Yang menarik dalam penelitian ini adalah para politisi Hindu sangat lemah bahkan ada yang tidak menggunakan akses media seperti media sosial maupun media elektronik dan media cetak. Walau penggunakaan media sosial terus meningkat di Indonesia, tampaknya tidak cukup menyentuh hati dan logika para politisi untuk memanfaatkan media sosial sebagai bagian dari aktivitas politiknya. Begitu pula dengan pemanfaatan media elektronik (lokal maupun nasional) serta media cetak (baik lokal maupun nasional) tidak menjadi prioritas dalam aktivitas politik para politisi Hindu. Aktivitas yang bersifat emosional secara langsung justru menjadi skala prioritas para politisi Hindu untuk mengaktualisasikan aktivitas politik mereka.

2)      Komunikasi Politik Politisi Hindu

Komunikasi politik yang dilakukan oleh politisi Hindu dalam penelitian ini akan dibedah dalam komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Dalam dua ranah komunikasi tersebut yag dapat dilihat dari simbol-simbol politik yang diusung maupun ditekankan dalam proses komunikasi politik yang dilakukan oleh para politisi Hindu.

Dalam konteks komunikasi politik verbal yang dilakukan oleh para politisi Hindu adalah kuatnya atau kentalnya aksen maupun dialeg Bali (kedaerahan) yang dimiliki oleh para politisi Hindu. Bukan hanya itu saja, pernyataan para politisi Hindu yang lebih menekankan pada penguatan simbol-simbol kedaerahan seperti “Bali Lampung”, ”Kerame Bali”, “Membangun Bali”, “Saya Hindu”, dll adalah wujud etnisitas yang sangat kental yang akan dibangun oleh para politisi Hindu dalam kegiatan komunikasi politik yang dilakukannya.

Untuk selanjutnya, proses komunikasi non verbal, simbol-simbol budaya masih mendominasi. Membangun identitas budaya sepertinya menjadi skala prioritas para politisi Hindu selama proses kampanye politik berlangsung. Simbol–simbol komunikasi politik tersebut dapat dilihat dari foto para politisi Hindu di beberapa media seperti kartu nama, banner, baliho, kalender, flayer, dll. Foto dengan menggunakan pakaian adat bali masih mendominasi Politisi Hindu yang berasal dari etnis Bali.

Selain itu, membangun identitas pribadi dalam kegiatan kampanye politik juga dilakukan, seperti mengkampanyekan jabatan personal dalam aktivitas maupun peran sosialnya, identitas budaya yang melekat dalam kepribadian sang politisi serta identitas agama yang dimiliki oleh para politisi tersebut. Hal tersebut lazim di kampanyekan selama proses komunikasi politik berlangsung. Tampaknya membangun identitas pribadi dalam konteks kepemilikan pribadi menjadi sangat mudah untuk membangun kepercayaan publik dalam hal ini basis massa untuk mengingat sosok (figure) para politisi yang akan dipilihnya.

 

3)      Citra Politik Politisi Hindu

Membangun citra politik butuh pengemasan yang matang dengan strategi yang tepat agar dapat melekat dalam benak konstituen. Dalam penelitian ini, membangun citra politik para politisi Hindu masih dilakukan secara personal dalam kegiatan-kegiatan yang sifatnya persuasif dan cenderung tradisional. Lebih tepatnya pendekatan tersebut lebih menyentuh akar rumput atau kunjungan ke bawah sehingga para politisi harus menyediakan waktu dan tenaganya secara khusus untuk aktivitas kunjungan politik yang dilakukannya agar sampai pada level afektif, konatif dan kognitif di konstituen.

Dalam proses pembentukan citra politik, politisi Hindu hanya menekankan pada dua hal yang lazim dilakukan yaitu membangun identitas kedaerahan serta membangun identitas diri. Membangun identitas budaya nampaknya yang paling sering dilakukan oleh para politisi Hindu. Pengemasan identitas budaya sebagai “Etnis Bali” yang akan maju pada pemilu Legislatif 2014 menjadi skala prioritas dibandingkan pengemasan identitas dalam pendekatan keagamaan. Hal tersebut dilakukan hampir seluruh politisi Bali baik yang memiliki daerah pemilihan di Bali maupun di luar pulau Bali.

Pengemasan identitas pribadi dapat dilihat dari pemaparan riwayat hidup para politisi Hindu saat melakukan kampanye politiknya. Latar belakang kehidupan pribadi, status sosial, peran dalam masyarakat, serta daftar aktivitas maupun kegiatan yang pernah dilakukan menjadi sebuah materi ataupun data yang menarik untuk disampaikan kepada konstituen. Hal tersebut lazim dilakukan oleh incumbent maupun para calon legislatif yang baru. Bahkan yang menarik lagi adalah, beberapa incumbent cenderung memanfaatkan pengalamannya menjadi anggota legistalif untuk membangun citra politiknya sebagai wakil rakyat yang telah terpilih dan sangat pantas untuk dipilih kembali untuk mewakili suara rakyat. [disarikan dari hasil penelitian LKPP, 2013]
[telah dibaca 513 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *