85 tahun Sumpah Pemuda

sumpah pemuda peradah indonesia copy

pic_wayan_sudane28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul di Jakarta, tepatnya di Jl. Kramat Raya 106 di rumah milik Sie Kong Liong. Pemuda yang berkumpul mencapai 80 orang terdiri dari Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Batasks Bond, JongCelebes, Jong Ambon, Pemoeda Indonesia, dan Pemoeda Koem Betawi.

Hasil dari pertemuan tersebut berupa ikrar para pemuda yang dikenal dengan Soempah Pemoeda (baca: sumpah pemuda, antara lain (menurut teks aslinya):

  • Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia.
  • Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
  • Kami poetra dan poetri Indonesa, mengjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Hasil pertemuan tersebut menjadi pemicu dalam mempererat persatuan untuk memerdekan bangsa Indonesia yang puncaknya pada 17 Agustus 1945 yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta. Sumpah Pemuda tersebut juga-lah yang terus memicu para generasi hari ini untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Namun demikian, dalam usianya delapan puluh lima tahun, nilai-nilai Sumpah Pemuda tersebut terus mengalami pergeseran dari semangatnya.

Bergesernya nilai-nilai sumpah pemuda dapat kita lihat dari perilaku masyarakat sebagai individu maupun secara institusi kebangsaan. Dalam konteks kehidupan berbangsa, insitusi pemerintah tentu memiliki peran penting dalam mempengaruhi perilaku kehidupan masyarakat sebagai individu yang dilakukan melalui kebijakan maupun peraturan perundangan.

Sebagai contoh perilaku insitusi kebangsaan adalah tumbuhnya peraturan daerah (perda) yang bernuasa agama seperti perda-perda syariah. Kendati perda ini mengatur kehidupan individu dalam berbangsa, namun tentu bergeser dari kehidupan masyarakat yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan golongan yang berdasarkan Pancasila.

Begitu juga dengan kebanggaan terhadap jati diri kehidupan berbangsa. Kini, masyarakat kita bangga terhadap gaya hidup dan pengaruh luar negeri yang tidak mencerminkan budaya dan jati diri bangga Indonesia. Tentu sebagai pemuda hari ini kita memiliki tanggung jawab sosial terhadap semangat sumpah pemuda tersebut. 85 tahun sumpah pemuda telah mencerminkan semangat juang dalam menjaga keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mari kita renungkan…

#WS
[telah dibaca 450 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *