Gede Narayana: KPU Panggilan Jiwa

gede narayana

Tidak pernah terbayangkan bagi Gede Narayana, SE bahwa dirinya akan menjadi anggota lembaga penyelenggara pemilu, tepatnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jakarta Pusat. Maklum saja, meski berlatar belakang aktivis mahasiswa di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gede belum pernah terlibat dan bersinggungan langsung dengan kepemiluan.
“Seperti masuk hutan rimba raya. Semuanya gelap. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan dan apa yang telah saya perbuat,” ungkap Gede Narayana mengawali pembicaraan.
Terlebih lagi, sebelum terpilih menjadi anggota KPU, Gede sempat menghilang dari gelanggang dunia aktivis. Keputusannya untuk mewujudkan kemandirian hidup bagi keluarga membawanya pergi meninggalkan tanah air tercinta untuk bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jepang.
“Setelah menikah, saya memang konsentrasi untuk mencari nafkah menghidupi keluarga,” tutur penggemar berat Bung Karno, Presiden pertama yang juga proklamator republik ini.
“Salah satu ajaran Bung Karno yang saya ikuti yaitu, jangan mencari penghidupan di organisasi tapi hidupilah organisasi. Saya menghayati betul ajaran Soekarno ini. Saya tidak ingin mencari penghidupan di organisasi,” lanjutnya.
Karena mengikuti ajaran Soekarno lah, Gede mantap dengan keputusannya meski berat rasanya karena harus meninggalkan keluarga.
Sejak bekerja di Jepang, Gede betul-betul terputus dengan dunia aktivis mahasiswa, meski sekali-kali memantau perkembangan tanah air. Selama hampir kurang lebih tiga setengah tahun dihabiskannya di Jepang berikut persiapan pelatihan selama kurang lebih satu setengah tahun, sehingga total selama lima tahun dunia aktivis di tinggalkannya.
”Setelah saya merasa sudah cukup bekal sedikit untuk mandiri secara ekonomi menghidupi keluarga, saya pulang ke tanah air,” kenangnya.
Dengan modal penghasilan selama bekerja di negeri Samurai itu, Gede membuka sebuah perusahaan yan bergerak di bidang jasa pengantaran dokumen yang biasanya di sebut ‘City Courier’.
“Kami mengantar jasa dokumen dari rumah ke rumah, kantor ke kantor, dengan karyawan hingga 25 orang. Karena perusahaan ini masih baru, saya sendiri masih terlibat langsung mengantar dokumen,” lanjutnya pula.
Ternyata kegiatan usahanya ini kemudian turut menjadi jalan yang mengantarnya menjadi anggota KPU. Berawal pada suatu hari ketika Gede pergi mengantar dokumen ke suatu alamat di daerah Bogor, dalam perjalanan tiba-tiba ia merasa haus. Lalu, Gede menepi mampir ke sebuah penjual minuman di pinggir jalan. Sambil membasahi tenggorokan dengan sebotol air teh kemasan, Gede iseng membaca koran milik penjual minuman. Ternyata dalam koran tersebut terdapat iklan besar-besar tentang pembukaan pendaftaraan anggota KPU. Gede tertarik dengan informasi tersebut sebab Gede merasa dirinya dapat memenuhi seluruh persyaratan yang tercantum dalam iklan tersebut. Salah satunya adalah karena dirinya bukanlah anggota suatu partai politik, yang artinya harus independen.
“Meskipun serba sedikit yang saya tahu tentang KPU, namun saya menduga bahwa KPU adalah sebuah lembaga besar yang mengelola pemilu yang butuh banyak karyawan. Tidak berpikir kalau KPU adalah lembaga penyelenggara pemilu dan yang dicari adalah orang yang akan mengisi jabatan publik sebagai anggota KPU, yang jumlahnya hanya lima orang saja,” ungkapnya mengenang.
Karena jiwa aktivis yang melekat dalam dirinya dan secara administrasi juga memenuhi syarat, Gede memberanikan diri mendaftar. Padahal Gede sendiri sudah lost contact dengan teman-temannya semasa jadi aktivis.
“Saya ikut tes, sesuai tahapan yang ada. Kalau tidak salah, dari awal nilai saya ranking pertama dalam seleksi,” katanya.
Yang membuat Gede Narayana memberanikan diri mendaftar adalah keberadaan Komisi Pemilihan Umum sebagai satu-satunya lembaga di republik ini yang mengurusi semua hal yang terkait dengan Pemilihan umum, suatu hajat akbar yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Dengan berbekal pengalaman selama menjadi aktivis organisasi dan membaca buku-buku yang terkait pemilu serta belajar dari teman-teman yang sudah terlebih dahulu berkecimpung di penyelenggara Pemilu, membuat Gede tak butuh lama untuk adaptasi.
“Setelah terpilih jadi anggota KPU Jakpus, saya searching teman-teman aktivis GMNI. Ya akhirnya satu persatu mereka saya temukan,” pungkasnya.
Gede merasa beruntung menjadi satu diantara umat Hindu yang terlibat langsung dan menjadi bagian penting dalam suatu proses untuk mempersiapkan perhelatan pesta demokrasi warga Jakarta, yaitu Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Artinya, umat Hindu memiliki konstribusi yang strategis dalam menentukan pemimpin di ibukota.
“Tentu saya bangga, sebagai satu-satunya umat hindu yang ikut terlibat dalam mempersiapkan pesta demokrasi rakyat Jakarta,” katanya.

Soekarnois Sejati
Sebagai anak dari keturunan Bali, dalam darah Gede Narayana mengalir darah Nasionalisme Seokarnois sejati. Pasalnya, dari kakek dan bapak semuanya‘pengikut’ Soekarno. Orang tua Gede memang aktivis PNI, partai yang didirikan Bung Karno.
Sebagai ‘pengikut’ Soekarno sejati, Gede dan keluarga, pernah merasakan pahit-getir dan lahir batin menjalani kehidupan karena tekanan rezim penguasa.

“Karena orang tua saya benar-benar betul-betul fanatik Bung Karno, kami agak kesulitan secara ekonomi, karena sulit mencari penghidupan,” kenang Gede. “Malah suatu waktu terlintas dalam benak saya, bahwa dunia politik itu kejam, penuh dengan intrik-intrik yang kotor, meskipun pada dasarnya politik tidaklah seperti itu. Itu pikiran sesaat terlintas saja pada waktu itu,” lanjutnya.
Apalagi Gede juga ikut merasakan kehidupan keras dan hidup dalam tekanan. “Banyak juga pengalaman pahit selama menjadi aktivis pada waktu itu. Saya pernah dikerjai oknum aparat sampai mencret-mencret,”kenangnya.
Seiring dengan berjalannya sang waktu, tidak ada yang kekal di dunia ini, rezim penguasa pun berganti. Banyak hal prinsip dalam konstitusi negara yg berubah. Salah satunya banyak bermunculan partai politik baru, seperti jamur di musim penghujan. Karena pada dasarnya lahir dari keluarga aktivis pergerakkan, Gede dan keluarganya ada di dalam pergerakkan perubahan tersebut.
“Tetapi jiwa dan semangat saya sampai saat ini,masih merasa kurang nyaman bila masuk pada suatu partai politik,” ujar Gede. “Karena yang namanya berpolitik tidak harus selalu berada dalam satu partai,” lanjutnya. “Saya mengutip pernyataan dari Prof.DR Ida Bagus Gunadha, M.Si bahwa politik dan perpolitikkan selalu berkaitan dengan organisasi, kepemimpinan, manajemen, kebudayaan, dan peradaban (buku, politik aneka Hindu). Karena saya seorang Hindu, saya juga mengutip Bhagawan Kautilya (Canakya) dalam buku lima belas, bab satu, bagian, 180 ayat 1, bahwa sumber kehidupan umat manusia adalah artha ( kesejahteraan ). Dengan kata lain, bumi dengan segala isinya yang didiami manusia, ilmu yang mencakup untuk mencapai dan melindungi bumi adalah arthasastra, Ilmu Politik. Jadi pendapat saya berpolitik itu tidak harus berada pada satu partai politik dan politik itu tidak lah kejam.”
Jadi bagi Gede, hiruk pikuk dunia politik bukan barang baru. Dia sudah merasakan sejak kanak-kanak. Diskusi hingga perdebatan politik di meja makan telah dibudayakan oleh orang tuanya sejak kecil. Berbekal prinsip hidup selalu berada pada jalan Dharma, Gede pun selalu berhasil melalui kesulitan-kesulitan hidup. Bahkan sejak, SD,SMP,SMA, hingga kuliah selalu menjadi pengurus OSIS dan ketua senat mahasiswa, meskipun berada di DKI Jakarta, yang menjadi barometer kehidupan di republik ini.
“Kebetulan saya selalu menjadi perwakilan dari non muslim. Saya selalu menjadi orang yang satu-satunya bergama Hindu, di luar pulau Bali tercinta di propinsi DKI Jakarta” katanya.
[telah dibaca 440 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *