PERADAH dalam Safari Bhakti Kesetiakawan Sosial

wayan adiyanto

Jakarta, 4 Juni 2013 sekitar 230 peserta Satuan Tugas (SATGAS) SBKS dari berbagai latar belakang kementerian/lembaga mengikuti upacara keberangkatan militer yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Dr. H.R Agung Laksono selaku Inspektur Upacara yang di pimpin komandan upacara Letkol Laut (P) Irwan Sondang P.S, di dermaga Mako Kolinlamil Tanjung Priok, Jakarta Utara. Upacara keberangkatan ini di hadiri oleh Menteri Sosial Republik Indonesia, Dr. H. Salim Segaf Al-jufri, Staf Khusus Presiden Velix Vernado Wanggai; Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono,S.E, Pangkolinlamil laksamana Muda TNI S.M Darojatim dan para pejabat lingkungan TNI beserta Kementerian Sosial.
Dalam kesempatannya Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan bahwa “ kegiatan SBKS ini merupakan kepedulian negara sebagai bentuk nyata kesetiakawan sosial nasional melalui kementerian sosial yang pelaksanaannya didukung dan menjadi tanggungjawab semua pihak baik itu dari pemerintah daerah, masyarakat, TNI-AL, mahasiswa, dunia usaha, ormas, organisasi sosial dan organisasi kepemudaan.
Kegiatan SBKS ini adalah bagian dari sail komodo 2013 yang merupakan kegiatan penjangkauan (outreach) di kawasan perbatasan, terluar, terpencil dan tertinggal seperti yang di ungkapkan ketua panitia Hari Kesetiakawan Sosial Nasional (HKSN) yang juga staf khusus presiden Velik Vernando Wanggai. Sama halnya yang disampaikan Menteri sosial Salim Segaf Al-jufri setelah mengikuti etape terakhir bahwasannya ditegaskan SBKS ini menjadi jembatan kedaulatan NKRI di pulau terdepan karena pulau-pulau yang menjadi objek tujuan adalah pulau pertama didepan garis wilayah indonesia khususnya wilayah timur indonesia.
Diharapkan melalui kegiatan SBKS ini masyarakat di daerah perbatasan merasa di perhatikan untuk memperkuat pengakuannya terhadap ketahanan kedaulatan NKRI.
Kegiatan SBKS ini adalah rangkaian kegiatan penjangkauan kementerian sosial RI dan panitia pusat Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) 2013 yang di dukung oleh TNI Angkatan Laut . Visi kegitan ini adalah menuju Indonesia sejahtera (INDOTERA) 2025 untuk menumbuhkan kesetiakawan sosial nasional indonesia yang di laksanakan dari tanggal 4 s.d 28 Juni 2013 dengan menggunakan kapal perang TNI-AL KRI Banjarmasin (BJM- 592) selama 24 hari dengan 13 hari berlayar dan 11 hari sandar di 7 lokasi.
“Wilayah indonesia memiliki lebih dari 17.600 pulau, dengan dua per tiga wilayah merupakan laut dan juga memiliki garis pantai sepanjang 81.000 kilometer dengan luas wilayah perairan mencapai 5.900.000 kilometer persegi. Sebagian besar pulau-pulau tersebut tidak berpenghuni, namun ada pula berpenghuni oleh masyarakat meskipun letaknya terpencil dan sulit dijangkau transportasi sehingga butuh perhatian lebih pemerintah. Oleh karena itu, untuk menjangkau wilayah terpencil tersebut butuh sarana transportasi yang handal dan terpercaya” ungkap Komandan SATGAS SBKS, Drs.Andi Hanindito,M.Si.
Kapal perang TNI Angkatan laut yang di komandai oleh Letkol Laut Jales Jamca Jayamahe, mengungkapkan rasa bangganya bisa berbagi dalam SATGAS SBKS ini dan siap mengawal bersama kru ABK sampai etape terakhir kembali ke jakarta. Kapal KRI BJM-592 adalah kapal laut jenis LPD (Landing Platform Dock) terbaru yang diproduksi anak negeri Indonesia pada tahun 2010 guna mendukung perjalanan SATGAS SBKS menjangkau di pulau-pulau perbatasan, terluar, terpencil dan tertinggal yang menjadi beranda depan Indonesia. Ada beberapa tahap penjangkauan, yaitu; tahap adaptasi di Waingapu kabupaten sumba timur, provinsi nusa tenggara timur; tahap interaksi di pulau solor, kabupaten flores timur, provinsi nusa tenggara timur; tahap intervensi di pulau Wetar, kabupaten maluku barat daya, provinsi maluku; tahap rekonstruksi di kota Ambon, propinsi maluku; tahap rekonsiliasi di pulau haruku desa aboru kabupaten maluku tengah propinsi maluku; tahap integrasi di Fakfak kabupaten fakfak propinsi papua barat; dan yang terakhir tahap revitalisasi di makasar/pangkep kabupaten pangkajene kepulauan, propinsi sulawesi selatan.
Adapun bentuk kegiatan di masing-masing daerah lokasi tujuan yaitu bhakti Sosial seperti bedah kampung, pelayanan kesehatan,pemberian bantuan sembako,bantuan sarana pendidikan, bantuan aksesibilitas bagi penyandang cacat, lansia terlantar,rehabilitasi infrastruktur sosial, pentas seni budaya dan hiburan berbasis kearifan lokal, pembentukan kampung siaga bencana berbasis kepulauan dan penguatan ekonomi masyarakat.

Kegiatan SBKS ini di ikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang sebanyak 230 orang yang terdiri dari berbagai latar belakang perwakilan kementerian/lembaga yaitu; Aksi Cepat Tanggap (ACT); Asosiasi Lembaga Filantropi Indonesia (ALFI); Bank Indonesia (BI); Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI); Dhompet Dhuafa; Forum Keserasian Sosial DKI; Front Pembela Islam (FPI); Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI); Ikatan Pekerja Sosial Nasional DKI; Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI); Karang Taruna; Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI); Komando Lintas Laut Militer (KOLINLAMIL); Komunitas Seni; Kwarnas/Pramuka; Mahasiswa; Perhimpunan Pemuda Hindu (PERADAH) Indonesia; Pemuda Muhammadiah; Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI); Pemuda Panca Marga; Pemuda Pancasila; Pekerja Sosial Masyarakat; Pesulap; Rumah Zakat; TAGANA; TNOL Community; TRACK; Mahasiswa Universitas Indonnesia; dan Yayasan PNIEL.
Kegiatan ini diharapkan dapat terciptanya model penjangkauan berbasis kepulauan, terjadinya interaksi sosial antar unsur dan komponen masyarakat, dunia usaha dan pemerintah, tersosialisasikannya nilai kesetiakawanan sosial, terciptanya hubungan emosional masyarakat antar gugus pulau/kawasan (terdepan, terluar, terpencil, terisolir dan tertinggal); terbangunnya semangat kebangsaan sebagai penguatan kedaulatan NKRI; tertanganinya sebagian masalah sosial yang berkarakter khusus ; dan terungkapnya potensi SDA dan SDM, sumber dan masalah/kendala penyelenggaraan kesosialan yang berkarakter lokal berbasis kepulauan.
Selama perjalanan 24 hari mengarungi lautan bersama dengan berbagai latar belakang SATGAS SBKS, terjalin hubungan emosional dengan visi yang sama menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial untuk memperkuat nasionalisme. Begitu juga di sampaikan Komandan SATGAS SBKS, Andi Hanindito di sela-sela apel pagi “Kita semua sama di sini, tidak ada yang berbeda, saya tidak memandang dari mana dan jabatan apa disini, kita semua membawa misi kemanusian untuk berbagi dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian di wilayah perbatasan (terdepan, terluar, terpencil beranda depan indonesia) sebagai wujud nyata menjembatani kedaulatan NKRI”.
Dari semua lokasi yang dikunjungi masalah yang menjadi prioritas utama adalah belum tersedianya infrastruktur sarana prasana pendidikan, kesehatan, transportasi, dan komunikasi yang memadai yang berdampak kepada tingkat kesejahteraan masyarakat. Secara emosional mereka butuh sentuhan perhatian lebih pemerintah sebagai warga indonesia untuk memperkuat nasionalismenya.
Wayan adiyanto/Jakarta
[telah dibaca 1796 kali]

One thought on “PERADAH dalam Safari Bhakti Kesetiakawan Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *