Nyoman Agus: Pegang Teguh Idealisme

nyoman agus asrama

Managus, demikian biasa dipanggil Ketua Umum Peradah Indonesia periode 2006-2009 ini. Terlahir di Bangli pada 2 Maret 1973. Pria dengan nama lengkap Nyoman Gde Agus Asrama, semenjak masa SMP dan SMA telah aktif terlibat dalam organisasi. Di masa SMP dan SMA, Managus selalu menjadi Ketua OSIS, aktif dalam kegiatan Pramuka dan menjadi salah satu kontingen dalam Jambore Nasional Pramuka tahun 1986 di Cibubur. Pernah terlintas dalam benaknya untuk berhenti berorganisasi ketika menginjak bangku kuliah, namun rupanya jiwa berorganisasi-nya hanya redup sesaat untuk akhirnya kembali terlibat dalam organisasi kampus menjadi ketua Unit Rohani Hindu Senat Mahasiswa Universitas Gunadarma tempat dia mengenyam pendidikan tinggi dengan mengambil jurusan Manajemen Informatika. Pendidikan nonformal juga diperoleh Managus dengan mengikuti berbagai kursus dan seminar di Indonesia maupun mancanegara seperti Singapura, Malaysia, Inggris dan Norwegia.
Sebelum menjadi ketua umum Peradah Indonesia, Managus yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap seni dan budaya mendirikan Sanggar Tari Tunjung Putri di Pura Kelapadua Depok, pernah menjadi ketua PansClub di tempat dia bekerja, Ketua Penelitian dan Pengembangan Badan Penyiaran Hindu dan Wakil Ketua Yayasan Manunggal Karsa Nusantara.
Pada tahun 2003-2006 Managus terpilih menjadi Ketua Peradah DKI Jakarta. Semasa menjadi Ketua Peradah DKI, Managus bersama pengurus Peradah DKI berhasil menjadikan Peradah satu-satunya Organisasi Kepemudaan yang tercatat di rekor MURI Indonesia dalam pelaksanaan uji emisi kendaraan terbanyak, yang dilaksanakan dalam rangkaian Olah Raga Gembira Peradah DKI Jakarta pada tahun 2005 di Taman Mini Indonesia Indah. Dimasa kepemimpinannya juga, penerapan teknologi e-voting sudah di implementasikan dalam Lokasabha Peradah DKI.
Managus sangat konsen dengan kemandirian organisasi. Pada saat menjabat sebagai Ketua Umum Managus bekerja di 2 (dua) perusahaan untuk men-support organisasi supaya Peradah tidak tergantung kepada pihak-pihak tertentu, terutama external umat yang dikhawatirkan dapat mengkooptasi organisasi.
Dalam perjalanannya memimpin organisasi Peradah, Managus menemukan fakta bahwa idealisme pemuda Indonesia sudah makin luntur dan sebagian besar dari mereka semakin pragmatis. Hal ini dapat tercermin dalam kegiatan Musda/Munas KNPI yang melibatkan seluruh organisasi pemuda. Sebagai catatan kecil, pada waktu pemilihan ketua DPD KNPI DKI Jakarta, Peradah satu-satunya Organisasi Kepemudaan yang tidak mau menerima fasilitas akomodasi hotel dan transport oleh para calon, termasuk uang saku. Delegasi Peradah pulang pergi ke rumah masing-masing selama 2 hari berlangungnya acara Musyawarah Daerah. Demikian pula setelah menjadi Ketua Umum, Managus secara konsisten memegang teguh idealisme dan integritasnya. Dalam Musyawarah Nasional KNPI, Peradah juga menjadi satu-satunya Organisasi yang tidak mau mendapat fasilitas dari para kandidat. Dengan sikap seperti itulah Managus mencoba untuk memberi warna dan mencoba merubah stigma pemuda yang pragmatis dan mulai kehilangan idealismenya. Integritas , konsistensi serta sikap peradah mendapat apresiasi dari Organisasi Kepemudaan yang lain.
Program peduli pendidikan secara konsisten tetap dilaksanakan sejak Managus mejadi Ketua DPP Peradah Indonesia DKI Jakarta dengan secara terus menerus mengembangkan ide dan gagasan untuk didukung oleh pihak-pihak yang memiliki kepedulian yang sama terhadap pendidikan, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang sejahtera.
Managus juga menjadi inisiator Kaukus Pemuda Lintas Agama DKI Jakarta bersama dengan Gerakan Angkatan Muda Katolik Indonesia, Gemma Buddis dan Ikatan Remaja Mesjid DKI Jakarta sewaktu menjadi ketua Peradah DKI. Selanjutnya, managus juga menjadi Inisiator Dewan Integritas Bangsa bersama dengan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Gerakan Angkatan Muda Katolik Indonesia, Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama, Pemuda Katolik Indonesia, Gemma Buddis, Generasi Muda Kong Huchu semasa mejadi “pengayah” sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Peradah Indonsia.
Managus bersyukur bahwa sampai akhir masa tugasnya dia tetap dapat memegang teguh idealisme nya sebagai salah satu generasi muda Hindu dalam kancah organisasi kepemudaan nasional. Idealisme dan integritasnya dituangkan dan dilaksanakan dalam setiap kegiatannya. Menurutnya idealisme tidaklah cukup hanya diperbincangkan, namun untuk dilaksanakan.
Setelah purna bhakti dari Peradah Indonesia, Managus pernah mendapat tawaran dari beberapa partai politik, namun dengan halus ditolaknya. Dia memilih lebih fokus untuk pengembangan usahanya dalam bidang infrastruktur, clean energy dan proyek-proyek lainnya yang diharapkan dapat menyerap lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat Hindu. Managus meyakini bahwa masyarakat kelas menengah harus dibangun untuk dapat mewujudkan masyarakat madani (civil society) yang kuat untuk mewujudkan Lokasamgrha (kesejahteraan bersama). Managus pernah menjadi penulis kolom Gagasan, Nyepi and World Silent Day di Koran Jakarta dan menjadi Koordinator Acara Dharma Shanti Nasional.
[telah dibaca 554 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *