Pembangunan Geothermal di Bali, Perlukah?

geothermal peradah indonesia

Sejak digagas mulai tahun 1994, proses pembangunan proyek geothermal di Bali ternyata akhirnya telah menjadi perdebatan antara pro dan kontra. Hal ini mulai muncul ketika pada tahun 2005-2006 dalam media cetak lokal dan nasional muncul berita mengenai penolakan terhadap proyek geothermal di Bali. Pada satu sisi yang menyatakan perlunya pembangunan geothermal di Bali adalah karena pertama, Bali belum mandiri mengenai energi dan masih tergantung pada pasokan dari pulau Jawa. Geothermal mampu menghasilkan energi listrik jauh lebih besar dibandingkan pembangkit listrik sumber daya energi lainnya. Dengan adanya geothermal maka akan mampu menyuplai hampir seluruh kebutuhan listrik di Bali. Kedua, geothermal merupakan energi pembangkit listrik yang ramah lingkungan, karena di sekitar geothermal dibutuhkan banyak pepohonan dan tumbuh-tumbuhan untuk menjaga tetap terjaganya resapan air. Selain itu infrastruktur geothermal tidak membutuhkan lahan yang luas, sehingga keaslian lingkungan sekitar akan tetap terjaga. Ketiga, geothermal merupakan pembangkit listrik panas bumi yang hampir sama sekali tidak menghasilkan limbah, sehingga geothermal dianggap aman dan sering disebut sebagai green energy.

Sedangkan pada pihak yang menyatakan tidak setuju dengan pembangunan geothermal di Bali, umumnya menyatakan bahwa dengan adanya pembangunan geothermal dianggap dapat mengurangi kesakralan kawasan areal suci di sana yaitu di kawasan Bedugul. Selain itu dianggap pembangunan bangunan dan infrastruktur jalan pada proyek di kawasan hutan dapat bertentangan dengan konsep Tri Hita Karana, yaitu dalam hal keselarasan dengan alam sekitar.

Atas hal tersebut, Peradah Indonesia melalui Lembaga Kajian dan Penelitiannya telah melakukan survey di wilayah Jabodetabek dengan respondennya adalah masyarakat Hindu Bali. Dalam survey ini ingin diketahui mengenai pemahaman responden terhadap geothermal dan pandangan dan harapan terhadap rencana pembangunan geothermal di Bali. Salah satu dasar dilakukannya survey ini adalah karena kajian terhadap persepsi dan pemahaman responden yang berasal dari pihak yang memiliki ikatan emosional dengan Bali perlu diketahui. Hal ini penting karena untuk mengetahui apakah suatu pihak mengatakan setuju atau menolak sudah mengetahui benar apa itu geothermal serta mengenai manfaat dan dampaknya kerugiannya.

 

Survey Persepsi Terhadap Geothermal di Jabodetabek

Survey persepsi terhadap geothermal dilaksanakan pada tanggal 8 April sampai dengan 5 Mei 2012. Kerangka sampling meliputi wilayah Jabodetabek. Sebanyak 302 responden berpartisipasi dalam survey ini, dari berbagai latar belakang, mulai mahasiswa, PNS, swasta/BUMN, militer, akademisi, wiraswasta, pensiunan, dan lainnya. Sebaran usia responden yaitu 17 sd 25 tahun (54%), 26 sd 40 tahun (31%), 41 sd 56 tahun (12%), dan lebih dari 56 tahun (3%). Sedangkan untuk sebaran pendidikan respondennya adalah SMA (40%), D1/D2/D3 (10%), S1 (41%), S2 (4%), dan lainnya (3%).

Metode pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan data ke lapangan. Pengumpulan data ke lapangan dilakukan secara simple random sampling dengan pemilihan titik-titik daerah sample secara convinient sampling yaitu dipilih tempat ibadah pura pada tiap kota/kabupaten, beberapa kegiatan dharma santi, dan kegiatan umat lainnya yang dianggap sebagai tempat memusat atau berkumpulnya umat Hindu di setiap wilayahnya.  Responden yang berpartisipasi sebanyak 302 responden, dengan jumlah penyebaran kuesioner hampir merata di setiap kota/kabupaten. Margin Error dari penelitian ini adalah 5.63%.

Survey dilakukan dengan memberikan kuesioner yang berisi 11 pertanyaan, yang meliputi: pemahaman responden terhadap energi terbarukan, harapan terhadap pengelolaan energi terbarukan, dan tanggapan responden terhadap pembangunan geothermal di Bali.

Berdasarkan hasil survey, Lebih dari setengah dari total responden menyatakan kurang dan tidak paham mengenai energi terbarukan yaitu sebesar 54,4 %, sedangkan yang menyatakan paham dan cukup paham sebesar 45,1%.  Mengenai pengetahuan responden terhadap definisi sederhana energi terbarukan, 65,1% dari total responden menjawab benar dan sisanya sebesar 33,8% menjawab salah, sedangkan mengenai pengetahuan responden terhadap contoh-contoh energi terbarukan, sebanyak 67,4% menjawab benar dan 31,5% menjawab salah.

Mengenai harapan terhadap energi terbarukan, sebagian besar responden yaitu sebesar 55,4% mengharapkan energi terbarukan yang ramah lingkungan, dan sisanya mengharapkan energi terbarukan yang aman, harganya murah, dan lainnya. Mengenai gambaran responden terhadap panas bumi (geothermal), 43,5% dari total responden menganggap panas bumi adalah energi yang ramah lingkungan, 19,2% menganggap panas bumi adalah bersih, 22,3% menganggap merusak lingkungan, dan 12,3% menganggap panas bumi itu berbahaya.

Mengenai keberadaan panas bumi di Indonesia, mayoritas responden yaitu sebesar 72,1% menyatakan mengetahui bahwa Indonesia kaya akan sumber energi panas bumi, dan sebesar 25,9% menyatakan tidak mengetahui. Mengenai bisa/tidaknya energi panas bumi diolah sebagai sumber daya energi, sebagian besar responden yaitu sebesar 78,1% menyatakan bisa, sebesar 5,6% menyatakan tidak bisa, dan sebesar 16,2% tidak menyatakan pendapatnya. Mengenai perlu tidaknya Bali mengembangkan penggunaan sumber energi terbarukan, sebagian besar responden yaitu sebesar 71,1% menyatakan perlu, sebesar 15,9 menyatakan belum perlu, dan 11,6% menyatakan tidak perlu. Mengenai pengetahuan responden apakah mengetahui apakah Bali memiliki potensi sumber energi terbarukan, sebesar 48,8% menyatakan tahu, dan 49,8% menyatakan tidak tahu. Mengenai apa yang harus diperhatikan apabila energi terbarukan dikelola di Bali, sebagian besar responden yaitu sebesar 51,2% memilih kelestarian lingkungan, dan sisanya memilih keterlibatan masyarakat, kesucian kawasan, tidak berbahaya, dan lainnya. Kemudian pada pertanyaan terakhir, apakah responden setuju dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (geothermal) di Bali, sebesar 58,2% menyatakan setuju, sebesar 21,6% menyatakan tidak setuju, dan 22,3% menyatakan tidak berpendapat.

#LKPP
[telah dibaca 260 kali]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *